Ibadah Nabi Daud


Shalat lima waktu sehari merupakan suatu ajaran yang identik dengan Islam. Perintah untuk melaksanakan shalat ini diterima oleh Rasulullah saat beliau Mi`raj menghadap Allah Subhanahu Wa Ta`ala.

Namun demikian, shalat juga telah dilaksanakan oleh Nabi-nabi dan Rasul sebelum adanya perintah shalat lima waktu dalam Islam akhir zaman ini. Nabi-nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya telah melakukan aktifitas shalat dengan metode dan pola yang hampir sama dengan shalatnya Muslimin saat ini.

Terdapat berbagai dalil yang mengungkapkan aktifitas ibadah penyerahan diri kepada Allah ini, antara lain:

Shalat Nabi Daud `Alaihis Salam

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Allah SWT sangat menyukai shalat Nabi Daud AS. Nabi Daud AS biasa tidur pada pertengahan pertama dari malam, kemudian ia shalat sepertiga malam, dan tidur lagi pada seperenam malam sisanya. Allah SWT juga paling menyukai puasa Nabi Daud AS. Nabi Daud AS biasa berpuasa setiap dua hari sekali, puasa yang paling berat. (Bukhari dan Muslim)

Firman Allah SWT di Al-Quran :
[QS.2:83] “… ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat …. “

[QS.3:39] “Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab …”

[QS.5:12] “Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. ….”

[QS.10:87] “Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat sholat dan dirikanlah olehmu sholat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman“.

Dan masih banyak ayat2 yang terkait dengan sholat sebelum Al-Quran diturunkan (sebelum zaman Rosulullah).

Ternyata di Yahudi dan Nasrani juga ada sholat, dan bener2 sholat lho, bukan cuman berdoa saja. Juga dengan gerakan berdiri, sujud, dsb-nya (Gerakan2nya mirip dengan sholat di Islam).

Dalam Gereja Orthodox, sholat tujuh kali sehari ini dikenal sebagai “Sholat Nabi Daud” berdasarkan Mazmur 119:164. Mencontoh kebiasaan Nabi Daud sholat, lalu dijadikan sebagai pola waktu-waktu sholat umat Kristen Kuno (Fundamentalis) sampai sekarang.
Namun, disamping itu Gereja Orthodox juga mengenal sholat tiga kali sehari bagi mereka yang memang tidak cukup waktu, yang dikenal sebagai “Sholat Nabi Daniel”, sesuai dengan Kitab Mazmur 55:18 dan Kitab Daniel 6:11.

Sesuai dengan data-data Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menyebutkan bahwa sholat itu dilakukan 7 kali dalam sehari (Mazmur 119:164) berdasarkan urutan waktu dan masing-masing sholat itu mempunyai makna theologis. Nama-nama sholat tersebut adalah sebagai berikut :

1. “Sholatus Sa’atul Awwal” (“Sholatus Shakhar”) atau “Sholat Jam Pertama” (“Sembahyang Singsing Fajar”, “Orthros”, “Matinus”, “Laudes”), yaitu sholat pagi (jam 4-6 pagi), mirip dengan “Sholat Subuh”. Data ini diambil dari Kitab Keluaran 29:38-41 berkenaan dengan ibadah korban pagi dan petang, yang dalam Gereja dihayati sebagai peringatan lahirnya Sang Sabda Menjelma sebagai Sang Terang Dunia (Yoh.8:12).

2. “Sholatus Sa’atus Tsalitsu” atau “Sholat Jam Ketiga” (“Sembahyang Jam Ketiga”, “Tercia”), jam 9-11 pagi, ini mirip dengan “Sholat Dhuha” di Islam. Informasinya ada dalam Kitab Kisah Para Rasul 2:1,15. Sholat ini dihayati agar mempunyai tekad memerangi hawa nafsu sendiri, agar rahmat Allah melimpah dalam hidup.

3. “Sholatus Sa’atus Sadis” atau “Sholat Jam Keenam” (“Sembahyang Jam Keenam”, “Sexta”), jam 12-13 tengah hari, ini mirip dengan “Sholat Dzuhur” di Islam. Informasinya ada dalam Kisah Para Rasul 10:9, yang mempunyai makna sebagai peringatan untuk selalu ingat akan hidup pertobatan dan selalu memohon rahmat Ilahi agar mampu mencapai tujuan hidup.

4. “Sholatus Sa’atus Tis’ah” atau “Sholat Jam Kesembilan” (“Sembahyang Jam Kesembilan”, “Nona”), jam 15-16 sore (Kis.3:1, Mrk.15:34-38), ini mirip dengan “Sholat Asyar” di Islam. Sholat ini dilakukan untuk mengingatkan agar manusia dapat melihat dan merasakan rahmat Ilahi.

5. “Sholatul Ghurub” atau “Sholat Senja (“Sembahyang Senja”, “Esperinos”, “Vesperus”), sekitar jam 18 sore, ini mirip dengan “Sholat Maghrib” di Islam. Sama seperti sholat jam pertama, sholat ini dilatar belakangi oleh ibadah korban pagi dan petang yang terdapat dalam Kitab Keluaran 29:38-41. Makna dan tujuan sholat ini adalah untuk memperingati kebangkitan dari kubur, seperti halnya matahari tenggelam dalam kegelapan untuk terbit pada esok harinya.

6. “Sholatul Naum” (Mzm.4:9) atau “Sholat Purna Bujana” (“Sholat Tidur”, “Completorium”), jam 20-24 malam, ini mirip dengan “Sholat Isya” di Islam. Sholat ini mempunyai makna untuk mengingatkan bahwa pada saat malam seperti inilah tergeletak dalam kuburan dan tidur, sebagai gambaran dari kematian itu.

 
 
7. “Sholatul Lail” atau “Sholat Satar” (Kis.16:25) atau “Sholat Tengah Malam” (“Sembahyang Ratri Madya”, “Prima”), waktunya tengah malam (jam 00-03 pagi), ini mirip dengan “Sholat Tahajjud” di Islam. Sholat tengah malam ini mengingatkan orang untuk tetap selalu berjaga-jaga dalam menghidupi imannya (Mat.24:42; Luk.21:26; Why.16:15).
 
Sebelum melakukan ibadah sholat tersebut di atas, menurut Tradisi Gereja dan Alkitab, khususnya Kristen Orthodox, juga “bersuci” sebelum menunaikan sholat yaitu dengan jalan membasuh telapak tangan, membasuh wajah dan kepala, membasuh tungkai kaki, serta seluruh kaki. Ini semua tertulis dalam Kitab Mazmur 26:1-12.Sholat adalah “Tiang Agama”, ternyata bukan hanya di Agama kita (Islam). Di mereka pun juga begitu, terutama di Yahudi yang jauh lebih keras dibandingkan dengan Islam.

Kalau soal Puasa, di Kristen dan Yahudi memang lebih keras (terutama Yahudi).

Sedangkan di Islam yang wajib hanya puasa ramadhan. Lalu yang sunnah, puasa enam hari di bulan syawal, puasa 9 Zulhijah (Arafah), 10 muharam (Asura), serta puasa bulan Syakban.

Di luar hari-hari tersebut, ada yang menerapkan puasa Senin-Kamis, nggak masalah selama bermanfaat untuk tubuh dan jiwanya. Juga ada yang menerapkan puasa hari Jum’at, khusus yang ini masih debatebel (diperdebatkan, ada yang bilang makruh, ada yang bilang sunnah). Juga ada yang menerapkan berbagai puasa, yang sebenarnya Rosulullah tidak melakukannya. Tapi rosul2 sebelumnya (Musa dan Daud) menerapkannya (di Yahudi juga diterapkan).

Menurut saya tidak masalah, selama itu memberikan manfaat untuk tubuh dan jiwa kita. Tapi kalau puasa yang di luar kewajiban tadi justru membuat kita menjadi takabur (merasa paling benar, sebagaimana kerasnya Yahudi), sebaiknya segera dihentikan, karena justru akan merusak jiwa kita.

 
Karena Al-Quran diturunkan untuk menyempurnakan Agama (aturan2) sebelumnya.
Sebaliknya kalau justru membuat kita menjadi semakin rendah hati, semakin berusaha mendengar, membaca, menghormati pendapat orang lain, keyakinan orang lain, dan semakin banyak beramal, berbuat kebaikan, bersyukur, kerja keras, dsb, yaa nggak masalah.Kalau soal zakat, di kita (Islam) lebih ringan. Kita cuman dipotong 2,5 % untuk membersihkan harta. Mereka dipotong 10% untuk gerejanya. Kita yang 2,5 % itu pun banyak lupanya hehehehe …

Semoga kita semua semakin dekat dengan Allah SWT, dan benar2 mampu MENGAMALKAN sholat dan puasa kita, bukan sekedar melaksanakannya (justu celakalah kita kalau cuman melaksanakannya, tapi tidak mengamalkannya, sebagaimana diingatkan Allah SWT dalam Surah Al Maa’uun).

Maaf sedalam-dalamnya bila ada yang khilaf dari tulisan saya ini, terima kasih telah membaca dan memberi tanggapan.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi rekan2 semua, khususnya menambah pengetahuan/referensi, dan membuat semakin bersyukur, bertaqwa, beriman, dan beramal. Mohon tanggapannya yaa, terima kasih

Ditulis oleh Husein Zakaria

Aceh Besar, Nangroe Aceh Darussalam , 27 Maret 2009  Jam 1:09:30

Enhanced by Zemanta
About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Info, Kebenaran, Sejarah dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ibadah Nabi Daud

  1. admin-1esa1 berkata:

    Kehidupan Nabi Daud

    Kehidupan Nabi Daud
    Nabi Daud  adalah seorang raja yang adil dan bijaksana.
    Allah memberikan karunia yang begitu besar kepada Nabi Daud ..
    Allah  berfirman:
    “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami.
    (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung,
    bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah
    melunakkan besi untuknya,” (QS Saba [34] : 10)
    Allah  membantu Nabi Daud membuat baju besi yang dapat digunakan
    untuk melindungi tentara dari musuh.

    Allah berfirman:
    “(yaitu) buatlah aju besi yang besar-besar dan
    ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang
    saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu
    kerjakan.” (QS Saba [34] : 11)
    Dikisahkan bahwa Allah  melunakkan besi bagi
    Nabi Daud sehingga besi itu dapat dibentuk oleh
    tangannya sendiri tanpa menggunakan api dan
    pemukulan. Beliau adalah manusia pertama yang
    membuat baju besi. Setiap hari beliau dapat
    membuat baju besi dan menjualnya ke pasar.
    Dalam sebuah hadits Rasulullah  berkata bahwa sebaik-baik apa yang
    dimakan oleh seseorang adalah apa yang dihasilkan oleh tangannya

    sendiri. Dan Nabi Daud  makan dari hasil jerih payah dan usahanya
    sendiri.
    Nabi Daud  sangat taat beribadah kepada Allah.
    Allah bercerita tentang ketaatan beliau:
    “dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan;
    sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan).” (QS Shaad [38] : 17)
    Para ulama menjelaskan, bahwa Allah memberikan kekuatan kepada
    Nabi Daud untuk beribadah kepada Allah.
    Dalam sebuah hadits shahih, Nabi kita Muhammad  bersabda:

    “Shalat yang paling disukai Allah adalah shalatnya Daud, dan puasa yang
    paling disukai Allah adalah puasa Daud.”
    Nabi Daud  senantiasa mengerjakan shalat malam dan juga sangat
    rajin berpuasa, yakni dengan puasa yang disebut puasa dahr, yakni
    sehari berpuasa dan sehari berbuka.
    Kepada beliau, Allah menurunkan kitab Zabur.
    Allah Ta’ala juga berfirman:
    “Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih
    bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan
    pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya
    amat ta’at kepada Allah.” (QS Shaad [38] : 17)

    Allah menganugerahkan suara yang indah kepada Nabi Daud.
    Dikisahkan setiap kali beliau membaca kitab Zabur, burung-burung dan
    binatang liar ikut berkumpul di sisinya sampai mati kehausan dan
    kelaparan, bahkan sungai-sungai pun ikut berhenti mengalir.
    Allah telah menguatkan kerajaan Nabi Daud , belaiu memerintah
    kerajaannya dengan adil dan bijaksana. Beliau memerintahkan manusia
    untuk berbuat adil dan mengikuti kebenaran yang diturunkan Allah.
    Sesungguhnya Nabi Daud  adalah panutan dalam ketaatannya kepada
    Allah dan juga keadilannya dalam memutuskan perkara diantara
    manusia.
    Allah mengisahkan di dalam Al-Qur’an:

    “Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara
    ketika mereka memanjat pagar? Ketika mereka masuk (menemui) Daud
    lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka.
    Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua
    orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim
    kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan
    janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke
    jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan
    puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja.
    Maka dia berkata : “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia
    mengalahkan aku dalam perdebatan”.
    Daud berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan
    meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan
    sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu

    sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali
    orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat
    sedikitlah mereka ini”.
    Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta
    ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka
    Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia
    mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang
    baik.
    Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di
    muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia
    dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan
    menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang
    sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka
    melupakan hari perhitungan.” (QS Shaad [38] : 21-26)

    Demikianlah, Allah  mengajarkan kepada Nabi Daud  agar menjadi
    seorang penguasa yang adil, dan beliau memiliki kedudukan yang dekat
    di sisi Allah .
    Nabi Daud  meninggal pada usia 100 tahun. Ketika itu matahari
    bersinar sangat terik, sehingga orang-orang yang mengiringi jenazah
    Nabi Daud meminta kepada putera beliau, Sulaiman , untuk
    memberikan perlindungan bagi mereka dari terik sinar matahari.
    Nabi Sulaiman pun memanggil burung-burung dan memerintahkan
    mereka untuk menaungi orang-orang itu dari terik matahari, hingga
    naungan itu menjadikan bumi menjadi gelap. Kemudian orang-orang itu
    beseru kepada Sulaiman  karena takut pada awan. Maka Nabi
    Sulaiman  pun menyuruh burung-burung itu untuk menaungi orangorang
    dari terik matahari saja dan tetap menyisakan ruang untuk angin.
    Lalu burung-burung itu pun mengerjakannya, sehingga orang-orang

    yang mengiringi jenazah Nabi Daud mendapatkan naungan dan tetap
    mendapatkan hembusan angin. Wallahu a’lam.
    Nah teman-teman, demikianlah kisah Nabi Daud . Insya Allah pada
    kesempatan lain, kita akan membaca kisah dari putera beliau, seorang
    Raja yang sangat besar kekuasaannya dan juga seorang nabi, yaitu Nabi
    Sulaiman .
    ________
    Maraji: Qishahul Anbiya (Kisah Para Nabi) karya Ibnu Katsir rahimahullah, hal. 527-548, Penerbit
    Pustaka Azzam, 2006.

    Doa Nabi Daud Memohon Cinta Allah

    Nabi Daud ’alihis-salaam merupakan seorang hamba Allah yang sangat rajin beribadah kepada Allah. Hal ini disebutkan

    langsung oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Nabi Daud ’alihis-salaam sangat rajin mendekatkan diri

    kepada Allah. Beliau sangat rajin memohon kepada Allah agar dirinya dicintai Allah. Beliau sangat mengutamakan

    cinta Allah lebih daripada mengutamakan dirinya sendiri, keluarganya sendiri dan air dingin yang bisa menghilangkan

    dahaga musafir dalam perjalanan terik di tengah padang pasir. Inilah penjelasan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih

    wa sallam mengenai doa Nabi Daud tersebut:

    Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Di antara doa Nabi Daud ’alihis-salaam ialah: “Ya Allah,

    sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan

    yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku

    serta air dingin.” Dan bila Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengingat Nabi Daud ’alihis-salaam beliau

    menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi 3412)

    Setidaknya terdapat empat hal penting di dalam doa ini. Pertama, Nabi Daud ’alihis-salaam memohon cinta Allah.

    Beliau sangat faham bahwa di dunia ini tidak ada cinta yang lebih patut diutamakan dan diharapkan manusia selain

    daripada cinta yang berasal dari Allah Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Apalah artinya

    seseorang hidup di dunia mendapat cinta manusia –bahkan seluruh manusia- bilamana Allah tidak mencintainya. Semua

    cinta yang datang dari segenap manusia itu menjadi sia-sia sebab tidak mendatangkan cinta Allah Yang Maha Pengasih

    lagi Maha Penyayang. Sebaliknya, apalah yang perlu dikhawatirkan seseorang bila Allah mencintainya sementara

    manusia –bahkan seluruh manusia- membencinya. Semua kebencian manusia tersebut tidak bermakna sedikitpun karena

    dirinya memperoleh cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    Sebab itulah Nabi Daud ’alihis-salaam tidak menyebutkan dalam awal doanya harapan akan cinta manusia. Beliau

    mendahulukan cinta Allah di atas segala-galanya. Beliau sangat menyadari bahwa bila Allah telah mencntai dirinya,

    maka mudah saja bagi Allah untuk menanamkan cinta ke dalam hati manusia terhadap Nabi Daud ’alihis-salaam. Tetapi

    bila Allah sudah mebenci dirinya apalah gunanya cinta manusia terhadap dirinya. Sebab cinta manusia terhadap

    dirinya tidak bisa menjamin datangnya cinta Allah kepada Nabi Daud ’alihis-salaam.

    Dari Nabi shollallahu ’alaih wa sallam beliau bersabda: “Bila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah berseru

    kepada Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Jibrilpun mencintainya. Kemudian Jibril

    berseru kepada penghuni langit: ”Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka kalian cintailah dia.” Penghuni langitpun

    mencintainya. Kemudian ditanamkanlah cinta penghuni bumi kepadanya.” (HR Bukhary 5580)

    Kedua, Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah cinta orang-orang yang mencintai Allah. Sesudah mengharapkan

    cinta Allah lalu Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah kasih-sayang dari orang-orang yang mencintai Allah,

    sebab orang-orang tersebut tentunya adalah orang-orang beriman sejati yang sangat pantas diharapkan cintanya.

    Hal ini sangat berkaitan dengan Al-Wala’ dan Al-Bara’ (loyalitas dan berlepas diri). Yang dimaksud dengan Al-

    Wala’ ialah memelihara loyalitas kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman. Sedangkan yang dimaksud dengan

    Al-Bara’ ialah berlepas diri dari kaum kuffar dan munafiqin. Karena loyalitas mu’min hendaknya kepada Allah,

    RasulNya dan orang-orang beriman, maka Nabi Daud ’alihis-salaam berdoa agar dirinya dipertemukan dan dipersatukan

    dengan kalangan sesama orang-orang beriman yang mencintai Allah. Dan ia sangat meyakini akan hal ini.

    Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersada: “Ruh-ruh manusia diciptakan laksana prajurit

    berbaris, maka mana yang saling kenal di antara satu sama lain akan bersatu. Dan mana yang saling mengingkari di

    antara satu sama lain akan berpisah.” (HR muslim 4773)

    Ketiga, Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah agar ditunjuki perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan

    cinta Allah. Setelah memohon cinta Allah kemudian cinta para pecinta Allah, selanjutnya Nabi Daud ’alihis-salaam

    memohon kepada Allah agar ditunjuki perbuatan dan amal kebaikan yang mendatangkan cinta Allah. Ia sangat khawatir

    bila melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah. Beliau sangat khawatir bila berbuat dengan hanya

    mengandalkan perasaan bahwa Allah pasti mencintainya bila niat sudah baik padahal kualitas dan pelaksanaan ’amalnya

    bermasalah. Maka Nabi Daud ’alihis-salaam sangat memperhatikan apa saja perkara yang bisa mendatangkan cinta Allah

    pada dirnya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah mencintai Ash-Shobirin (orang-orang yang sabar). Siapakah

    yang dimaksud dengan Ash-Shobirin? Apa sifat dan perbuatan mereka sehingga menjadi dicintai Allah?

    ”Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka

    tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah

    (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran ayat 146)

    Keempat, Nabi Daud ’alihis-salaam memohon kepada Allah agar menjadikan cinta Allah sebagai hal yang lebih dia

    utamakan daripada dirinya sendiri, keluarganya dan air dingin. Kemudian pada bagian akhir doa ini Nabi Daud ’

    alihis-salaam kembali menegaskan betapa beliau sangat peduli dan mengutamakan cinta Allah. Sehingga beliau sampai

    memohon kepada Allah agar cinta Allah yang ia dambakan itu jangan sampai kalah penting bagi dirinya daripada cinta

    dirinya terhadap dirinya sendiri, terhadap keluarganya sendiri dan terhadap air dingin.

    Mengapa di dalam doanya Nabi Daud ’alihis-salaam perlu mengkontraskan cinta Allah dengan cinta dirinya sendiri,

    keluarganya dan air dingin? Sebab kebanyakan orang bilamana harus memilih antara mengorbankan diri dan keluarga

    dengan mengorbankan prinsip hidup pada umumnya lebih rela mengorbankan prinsip hidupnya. Yang penting jangan sampai

    diri dan keluarga terkorbankan. Kenapa air dingin? Karena air dingin merupakan representasi kenikmatan dunia yang

    indah dan menggoda. Pada umumnya orang rela mengorbankan prinsip hidupnya asal jangan mengorbankan kelezatan

    duniawi yang telah dimilikinya.

    Jadi bagian terakhir doa Nabi Daud ’alihis-salaam mengandung pesan pengorbanan. Ia rela mengorbankan segalanya,

    termasuk dirinya sendiri, keluarganya sendiri maupun kesenangan duniawinya asal jangan sampai ia mengorbankan cinta

    Allah. Ia amat mendambakan cinta Allah. Nabi Daud ’alihis-salaam sangat faham maksud Allah di dalam Al-Qur’an:

    “Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu

    usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih

    kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan

    keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS At-Taubah ayat 24)

    Source:Eramuslim.com

    http://antiquemaniacworld.blogspot.com/2010/12/doa-cinta-nabi-daud-alaihisalam-nabi.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s