Kata Dalam Bible Yang Dihapus

Most people believe the new versions are just “harmless” updating of words and made easier to understand.

Nothing could be further from the Truth!
The new versions “take out” and “add” thousands of words. And as with Eve (see Genesis 3:1), it s all done very subtil.

The average reader would never know the difference!

Differs from the King James Bible in the New Testament
o = Omitts a = Adds
NKJV NIV NASV NRSV RSV NCV LIV
WORDS o 2289 o 5219 a 3561 o 3890 o 6985 a 11114 a 17003
VERSES 0 o 16 o 17 o 18 o 25 o 16 o 7
The number of times 15 Major words differ from the King James Bible
o = Omits a = Adds * = Word is Completely Removed
WORD NIV NASV NKJV RSV NRSV NCV LIV
Christ o 25 o 34 o 1 o 32 o 87 a 121 a 44
Lord o 352 o 438 o 66 o 36 o 91 o 299 o 2368
Jesus a 292 o 64 o 2 o 53 a 16 a 1098 a 293
God o 468 o 87 o 51 o 111 o 138 a 803 a 452
Godhead o 3 * o 3 * o 1 o 3 * o 3 * o 3 * o 3 *
Lucifer o 1 * o 1 * o 1 * o 1 * o 1 *
devil(s) o 80 o 82 o 81 o 82 o 80 o 74 o 87
hell o 40 o 41 o 22 o 41 o 41 o 39 a 13
heaven o 160 o 127 o 50 o 83 o 88 o 186 o 26
damned (able, ation) o 15 * o 15 * o 15 * o 15 * o 15 * o 15 * o 7
blood o 41 o 39 o 23 o 26 o 46 o 157 o 174
salvation o 42 o 4 o 2 o 33 o 37 o 94 o 25
Word of God o 8 o 2 o 1 o 3 o 8 o 31 o 27
Word of the Lord o 25 o 2 a 4 o 2 o 3 o 217 o 236
Lord Jesus Christ o 24 o 21 o 21 o 22 o 20 o 15
Iklan

AlFatihah Dalam AlQuran Dan Injil

“Amalan Tefilla Happatha” tidak ada dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Tefilla Happatha

Beshem Eloah Harakhman Harakhimim
Hodu la-YHWH Rabun Ha‘olamim
Harakhman Harakhimin, Melekh Yom Haddin
Elekha na‘bod Adonai le’orekh yamim
Neheni be’orakh mishor lehayyim
Lalekheth be’orakh hatstsadiqqim
Lo halakh be‘etsath risha‘im welo hassagim
Amen

Dengan Nama (Eloah – TUHAN) Maha Pengasih Maha Penyayang
(Ezra 5:1; Daniel 9:9)

Syukur kepada (YHWH – TUHAN), Penguasa semesta alam
(Liturgi Yahudi)

Maha Pengasih, Maha Penyayang, Raja Hari Pengadilan
(Terminologi Yahudi)

Kepada-Mulah kami beribadah, ya (TUHAN – Adonai), untuk selamanya
(Mazmur 30:9)

Bimbinglah kami senantiasa ke jalan yang lurus menuju kehidupan
(Mazmur 27:11)

yaitu menurut jalan orang-orang yang benar
(Ulangan 8:6)

Bukan menurut nasihat orang fasik dan bukan orang sesat
(Mazmur 9:21)

Amin

Sejarah Singkat Dan Keotentikan AlQuran

Orientalis selalu gencar menyelinap dan mencari celah menyudutkan Islam, tak mengenal waktu dan medan. Walaupun badai menghadang tidak menghambat teriakkan kosong mereka. Segala upaya pun dikerahkan, sebutlah nama Gerd R. Joseph Puin, Bothmer, Rippin, R. Stephen Humphreys, Gunter Lulling, Yehuda D. Nevo, Patricia Crone, Michael Cook, James Bellamy, William Muir, Lambton, Tolstove, Morozov dan Wansbroughla dan ribuan yang berjejer dibelakang mereka. Tak ketinggalan mereka pun telah berhasil meniup angin kelabu dan menanamkan akar tunggang di hati umat islam yang tak memiliki rantai kuat keimanan, Nasr Hamid Abu Zaid, Taha Husain, ‘All Dushti, Ahmad Amin, Fazlur Rahman, dan akhirnya Muhammad Arkoun menjadi pengekor mereka yang sangat aktikf dan kreaktif,

Salah satu serangan yang sangat mereka gentolkan adalah kontroversi dalam kompilasi Al-Quran. Mereka tak ingin kitab suci ini tetap menjadi pegangan hidup kaum muslimin. Mereka mensejajarkan Al-Quran dengan kitab Injil dan Taurat –yang memang telah banyak mengalami perubahan- untuk dikritisi dan dihujat. Mereka menganggap umat Islam adalah bodoh, tertipu oleh distorsi sejarah dimana teks-teks Al-Quran telah tercemar kemurniannya dan sumbernya tidak jelas. Bagi mereka kompilasi Al-Quran hanya berpegang pada khayalan dan rekaan para sahabat belaka, sehingga ilmu hermeunetika wajib diaplikasikan dalam penafsirannya.

Sebagaimana pernyataan Tobi Lester dalam majalah ‘The Athlantic Montly’, “kendati umat Islam percaya Al-Qur’an sebagai kitab suci yang tak pernah ternodai oleh pemalsuan tapi mereka {umat Islam} tak mampu memgemukakannya secara ilmiah”.

Inilah yang melatarbelakangi para ahli hadis dan tafsir Almakkiyat tuk mengkaji dan mengeksplorasi segala permasalahan yang mencuat dalam proses kompilasi Al-Quran. Pemakalah yang tampil sudah tak asing lagi di kalangan masisir, andalan Almakkiyat, yang lagi s2 di Universitas Al-Azhar jurusan Tafsir, siapa lagi kalau bukan uni Arina Amir Lc.

Kajian yang dilaksanakan di rumah uni Wirza ini benar-benar seru dan menegangkan serta menampilkan banyak pengetahuan baru dalam arena diskusi. Pembahasan dimulai dari pengertian kompilasi kemudian dikelompokkan atas 3 periode: masa Rasulullah saw, masa Abu Bakar dan Usman bin Affan.

Mulai bagaimana wahyu diturunkan dan dibacakan didiktekan oleh Rasullullah kepada para sahabat untuk kemudian dihafal dan dituliskan di pelapah korma dan kulit onta, sehingga Al-Quran pun tetap terjaga dalam dada (dalam hafalan) dan naskah (dalam tulisan).

Cukup banyak riwayat bahwa lebih kurang enam puluh lima sahabat penulis wahyu yang telah ditugaskan oleh Nabi Muhammad.

Mereka diantaranya: Abban bin Sa’id, Abu Umama, Abu Ayyub Ansari, Abu Bakr Siddiq, Ubay bin Ka’b, Ja` far bin Abi Talib, Huzaifa, Khalid bin Walid, Zubair bin `Awwam, Zaid bin Tsabit `Abdullah bin Arqam, `Abdullah bin Rawaha, ` ‘Usman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Talib, ‘Umar bin Khattab, ‘Amr bin al-’As, Mu’az bin Jabal, dan lain-lain.

Waktu terus berputar, manusia terbaik sepanjang masa, Rasulullah saw berpulang ke rahmatullah. Puncuk pimpinan Islam selanjutnya dipegang oleh sahabat Abu Bakar Shiddiq sebagai khalifah pertama. Setelah terjadinya perang Yamamah yang menyebabkan banyaknya syuhada dari para huffaz, Umar bin Khatab mengusulkan agar sang khalifah melakukan kompilasi Al-Quran. Abu Bakar pun menunjuk Zaid bin Tsabit dan timnya untuk mengemban tugas berat ini. Penulisan kembali naskah Al-Quran pada masa itu, didasarkan kepada hafalan dan catatan para sahabat. Panitia menetapkan syarat 2 orang saksi, bahwa hafalan dan tulisan dilakukan di depan Rasulullah saw.

Maka terkumpullah Al-Quran dengan ahruf sab’ah dalam bentuk suhuf (naskah-naskah kertas) meskipun belum tersusun dalam kitab seperti sekarang. Tapi dengan proses seleksi dan metode yang super ketat, Al-Quran teruji keotentikannya, tidak seperti yang digembor-digemborkan oleh orientalis.

Tahun berganti, kekhalifahan pun sampai pada khalifah ketiga, Usman bin Affan. Dengan adanya berbagai ekspansi, wilayah kekuasaan Islam semakin luas. Para mujahid berangkat dari suku, kabilah dan provinsi yang beragam, sehingga mereka membaca Al-Quran dengan dialek yang berlainan. Ini karena Rasulullah memang telah mengajar mereka membaca Al-Qur’an dalam dialek masing-masing, karena dirasa sulit untuk meninggalkan dialeknya secara spontan. Hal ini memicu terjadinya kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat pada masa itu.Maka khalifah Usman pada tahun 25 H, memerintahkan kembali Zaid bin Tsabit untuk mengkompilasikan Al-Qur’an berdasarkan mushaf yang telah ada, dengan satu luhgah saja yakni lughah Qurasy. Zaid sekali lagi menggunakan seleksi yang sangat ketat sekali dalam melakukan tugas ini dan tetap memperhatikan kemutawatirannya. Mushaf inilah yang disebarkan ke berbagai penjuru Islam dan disepakati ulama hingga saat ini.

Pada masa-masa selanjutnya terjadi penyempurnaan mushaf Usmani mulai dari titik, baris, rubu, juz, pemisah antara ayat dan surah sehingga kitapun dapat membacanya dengan mudah.

Sebenarnya, pembahasan ini telah sering kita kaji dan telaah namun kita tidak sadar ternyata musuh-musuh Islam berpadu tangan tuk mengacaukan dan mengotak-atik keotentikkan Al-Qur’an. Mereka membuat pertanyaan-pertanyaan yang apabila kita tidak kuat, kita akan mudah terhipnotis, dan tergelincir meragukan Al-Quran yang ada di tangan kita hari ini. Seperti; kenapa Umar bin Khatab khawatir dengan meninggalnya para huffaz, jika memang Al-Qur’an sudah ditulis masa Rasulullah? Mengapa lembaran-lembaran yang ditulis itu tersebar di kalangan sahabat dan tidak disimpan langsung oleh Rasulullah? Kenapa Al-Qur’an tidak langsung dibukukan pada masa Rasulullah tampa harus menunggu periode Usman 15 tahun kemudian? Kenapa terjadi perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an padahal Al-Qur’an adalah mutawatir? Mengapa ketua tim harus Zaid yang notabene masih sangat muda, sedangkan masih banyak sahabat senior lainnya? Mengapa dalam proses kompilasinya tidak mengajak Abdullah bin Mas’ud dan menggunakan shuhuf pribadinya yang disinyalir punya perbedaan? Kenapa 2 ayat terakhir surat at-Taubah tetap dimasukkan padahal hanya Abu Khuzaima al-Ansari saja yang mencatatnya? Dan berbagai pertanyaan lain yang seolah-olah ilmiah dan kritis, tapi ternyata dapat dipatahkan dengan bukti sejarah dan dengan adanya manuskrip-manuskrip Al-Quran sejak abad pertama Hijrah yang masih eksis hingga kini di berbagai museum.

Inilah tantangan kita sebagai penuntut ilmu agama umumnya, untuk menyebarluaskan hujjah-hujjah yang kuat bahwa Al-Quran memang terhindar dari pemalsuan dan perubahan, dan itu dapat dibuktikan secara ilmiah. Salah satu buku yang juga dikupas dalam kajian kali ini adalah The History of The Qur’anic Text from Revelation to Compilation (Sejarah Teks Al-Quran Dari Wahyu Sampai Kompilasinya) karya Prof. Dr. M.M al A’zami -guru besar Universitas King Saud- yang membeberkan fakta-fakta ilmiah keotentikan Al-Quran dalam proses kompilasi.

Dalam semua tataran, Al-Qur’an akan selalu mendapat hujatan dari kalangan yang memusuhi tegaknya agama Allah di muka bumi. Jika belum mampu berbuat banyak menangkis semua serangan, sekurang-kurangnya kita harus terus berusaha mendalami dan memahami prinsip-prinsip agama kita yang tidak mungkin dapat diubah oleh peredaran zaman.

Di atas segalanya, kita harus menjadikan Al-Qur’an sebagai referensi kita. Bagian teks mana pun yang mungkin berlainan dengan mushaf yang ada -terserah apa yang hendak mereka sebutkan- adalah bukan dan tidak akan menjadi bagian dari Al-Qur’an. Demikian halnya, segala upaya dari pihak non muslim yang ingin mencekoki pikiran tentang dasar-dasar ajaran agama kita, mesti kita tolak tanpa harus berpikir panjang. Bagaimana pun keadaan suhu politik, pandangan kaum muslimin terhadap kitab suci ini mesti tetap tak akan tergoyahkan: ia adalah kalam Allah, yang konstan, terpelihara dari kesalahan, tak mungkin dapat diubah, dan mukjizat yang tak mungkin direkayasa.
sumber:
Fadilah Is
http://almakkiyat.wordpress.com/
http://www.facebook.com/profile.php?id=100000381218942

Perbandingan

Jika dibandingkan dengan kitab-kitab yang terdahulu – Taurat, Zabur, Injil- maka Al-Qur’anlah yang paling bisa dikatakan lebih otentik karena beberapa hal :

Ditulis saat Rasulullah masih hidup, dengan larangan penulisan masalah lainnya yaitu hadits, sehingga kemungkinan adanya pencampuran adalah kecil. Sementara yang lain seperti Perjanjian Lama yang merupakan himpunan kitab/fasal, ditulis selama lebih dari dua abad setelah musnahnya teks asli pada zm. Nebukadnezar, yang ditulis kembali berdasarkan ingatan semata oleh seorang pendeta Yahudi yang bernama Ezra dan dilanjutkan oleh pendeta – pendeta Yahudi atas perintah raja Persia , Cyrus pada tahun 538 sebelum Masehi.18

Al-Qur’an masih memakai bahasa asli sejak wahyu diturunkan yaitu Arab, bukan terjemahan. Bagaimanapun terjemah telah mengurangi keotentikan suatu teks.

Bibel sampai ketangan umatnya dengan Bahasa Latin Romawi. Bahasa Ash Taurat adalah Ibrani, sedang bahasa Ash Injil adalah Aramaik. Keduanya disajikan bersama dalam paket Bibel berbahasa Latin yang disimpan dan disajikan untuk masing-masing negara melalui bahasanya sendiri-sendiri, dengan wewenang penuh untuk mengubah dan mengganti sesuai keinginan

Al-Qur’an banyak dihafal oleh umat Islam dari zaman Rasulullah sampai saat ini. Sedangkan Bibel, boleh dibilang tidak ada. Jangankan dihapal, di Indonesia sendiri Bibel umat Katolik baru boleh dibaca oleh umatnya pada tahun 1980

Materi Al-Qur’an tidak bertentangan dengan akal, dan relevan sepanjang masa. Sementara Bibel mengandung banyak hal-hal yang tidak masuk akal dan mengandung pornografi. Seperti berikut ini :

Ayat porno

Yehezkiel 23 :1-21, berisi ayat-ayat jorok tentang seksual. Diceritakan didalamnya penyimpangan seksual yang sangat berbahaya bagi perkembangan psikologis bila dibaca oleh anak anak dibawah umur. Ada kalimat-kalimat yang sangat cabul dengan menyebut (maaf) buah dada, buah zakar, menjamah jamah, birahi, dan lain-lain, contohnya :

(ayat.3) “Mereka bersundal pada masa mudanya; di sann susunya dijamah jamah dan dada keperawanannya dipegang-pegang”.

Ayat yang selanjutnya: 5, 8, 11, 18, 20, 21 dalam kitab yang sama lebih jorok lagi yang tidak sepantasnya ditulis bahkan di dalam buku ini.

Pelecehan Bibel terhadap Tuhan

Tuhan jorok, menyuruh makan tahi? (Yehezkiel4: 13).

Tuhan kalah dalam duel melawan Yakub? (Kejadian 32:28).

Pelecehan Bibel kepada para Nabi Allah Swt.

Nabi Nuh mabuk-mabuk sampai teler dan telanjang bugil (kejadian 9:18-27).

Ayat-ayat yang mustahil dipraktekkan

Hukum Sabat

Hari Sabat (sabtu) adalah hari Tuhan yang harus dikuduskan. Pada hari itu setiap orang dilarang bekerja, dilarang memasang api di rumah (lampu, kompor, dll) karena Sabat adalah hari perhentian penuh. Orang yang bekerja pada hari Sabtu harus dihukum mati (keluaran 20 :8-11, 31 :15, 35 : 2-3).

Ayat-ayat diskriminatif

Perbuatan riba (rente) dilarang dilakukan kepada Israel, tapi boleh dilakukan kepada non Israel (Ulangan 23 : 19-20). Ayat-ayat yang seperti di atas adalah bukti kebenaran dari apa yang diberitahukan oleh Allah bahwa para ahli kitab telah merubah isi kitab mereka. Apa mungkin Tuhan berfirman seperti di atas?. Maha suci Allah atas apa yang mereka tuduhkan. Sebelum menyudutkan sisi sejarah penulisan wahyu, Dr. Robert Morey mestinya berkaca lebih lama di depan kitab sucinya untuk kemudian menentukan langkahnya. Langkah menyudutkan al-Qur’an sangat tidak membantu umat Kristen memahami kitab sucinya. Kalau ingin jujur sebenarnya ajaran asli -tauhid- mereka disampaikan ulang oleh Allah melalui al- Qur’an. Beberapa kiasan dalam bibel akan dapat mudah dipahami ketika membaca al-Qur’an. Maka benar jika al-Qur’an menyatakan bahwa di dalam al-Qur’an memuat kabar dan ajaran tentang mereka. Pengakuan saudara seagama Dr. Robert Morey , lebih menunjukkan suatu kedewasaan berpikir dan jujur. Mungkin termasuk mereka yang disebut al-Qur’an sebagai Qissisin wa ruhban, yaitu :

Dr. G.C. Van Niftrik dan Dr. B.J. Bolland :

“Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan di dalam Bibel; kehilafan-kekhilafan tentang angka-angka perhitungan; tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungkan kekhilafan-kekhilafan itu pada caranya, isi Bibel telah disampaikan kepada kita, sehingga kita akan dapat berkata: “Dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan itu barulah kemudian terjadi di dalam turunan naskah itu. Isi Bibel juga dalam bentuknya yang asli, telah datang kepada kita dengan perantaraan manusia”.19

Dr. R. Soedarmo :

“Dengan pandangan bahwa Kitab Suci hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab dengan bentuk sekarang masih dapat diperbaiki”.20

Sejarah Singkat Penulisan AI-Qur’an

Keaslian al-Qur’an di kalangan Muslim adalah suatu kepastian, susunan dan materinya. Selain karena penjagaan Allah, hal ini tidak lepas dari usaha Rasulullah dan para penerusnya hingga saat ini dalam menjaga keaslian al-Qur’an; huruf perhuruf, ayat perayat, hingga surat dan susunannya. Dengan begitu umat Muslim terhindar dari peringatan Allah swt. untuk tidak merubah al-Qur’an sebagaimana yang pernah dilakukan oleh umat sebelumnya

(Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?] (QS. al-Baqarah: 75).

Allah Swt. telah menjanjikan suatu penjagaan bagi kitab terakhir yang pernah diturunkan kepada umat manusia ini

[Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.] (QS. Al-Hijr : 9).

Dan sekaligus menjadi bukti bahwa Muhammad adalah nabi akhir zaman, sebab ajarannya tetap terpelihara dan tak satupun umatnya berani merubah walaupun satu huruf. Janji Allah tersebut setidaknya terbukti dengan upaya-upaya penjagaan oleh kaum Muslim yang telah berlangsung selama lebih dari 14 Abad. Upaya tersebut dapat disimpulkan dalam dua cara : Penulisan Mushhaf seperti yang sampai kepada kita, dan upaya penghafalan oleh para Qurra’ (pengkaji al-Qur’an) yang tersebar dipenjuru dunia Islam. Dua macam upaya ini sudah berjalan sejak zaman Rasulullah saat wahyu diturunkan.

Sejarah penulisan dan penjagaan wahyu ini akan kami sajikan secara ringkas berdasarkan hadits dan riwayat sahabat. Riwayat merupakan sumber dalam penulisan sejarah -khususnya tentang masalah ini- yang tidak bisa begitu saja diabaikan, apalagi materi riwayat tersebut tidaklah bertentangan dengan akal sehat, dan diriwayatkan dengan seleksi penerimaan yang sangat ketat. Seleksi yang selain berdasarkan materi juga kejujuran periwayat yang mungkin jarang -nyaris mustahil- kita dapatkan pada masa sekarang. Kita bisa bayangkan ketika perowi yang ditemukan ingin menangkap ayam dengan menggunakan biji sebagai umpan, riwayatnya tidak bisa diterima karena dianggap tidak jujur kepada hewan, apalagi kepada manusia. Suatu seleksi yang sangat ketat hingga hasilnya sangat layak untuk kita jadikan sandaran hukum dan penulisan suatu sejarah seperti bahasan kita kali ini.

Kalau toh ada yang mengatakan riwayat-riwayat di bawah ini adalah fiksi, kita bisa menilai mana yang lebih akurat apakah perowi yang telah menulis riwayat tersebut beberapa abad yang lalu (dimana lebih dekat dengan kejadian, dan tradisi lesan masih sangat kuat serta seleksi yang sangat ketat) ataukah mereka yang datang setelah beberapa abad kemudian dengan alasan “Ilmiah” tiba-tiba mengatakan riwayat tersebut “fiksi”. Selama materi riwayatnya tidak menyiratkan hal yang di buat-buat kenapa harus ditolak, kecuali jika bertentangan dengan bukti lain yang lebih akurat.

Penulisan dan Pengajaran AL-Qur’an Pada Masa Rasulullah

Rasulullah sangat berdisiplin dan hati-hati dalam mengajarkan al-Qur’an kepada para sahabatnya, dimana ayat- ayat yang baru turun harus dihapal oleh para sahabat saat itu juga, mereka tidak diizinkan pergi sebelum hafal seluruhnya, setelah itu mereka sampaikan kepada mereka yang tidak hadir, Ayat yang sudah mereka hafal tersebut kemudian mereka lakukan tadarusan (membaca dan mengkajinya) bersama disalah satu rumah di pojok kota Makkah, demi menghindari ancaman orang-orang Quraisy.

Pada saat Rasulullah berada di Madinah, 2/3 al-Qur’an sudah diturunkan.21Hal ini membuat Rasulullah harus bekerja keras mengajarkan al-Qur’an kepada kaum Anshor yang baru masuk Islam. Begitu besarnya tuntutan tersebut hingga Rasulullah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengajarkan al-Qur’an kepada para sahabat. Maka tidak heran jika ada satu kelompok yang kita kenal sebagai ahlu as-suffah yaitu para sahabat yang menetap/tinggal di masjid untuk belajar al-Qur’an, dan dari antara merekalah muncul nama-nama seperti Ibnu Abbas (Muhajirin), Ubay bin Ka’b (Anshor)…… kelak merekalah yang paling berperan dalam melakukan kodifikasi wahyu. Lain dari pada itu cara pengajaran yang dilakukan oleh Rasulullah sangatlah berdisiplin dimana al-Qur’an diajarkan persepuluh ayat sampai para sahabat hafal dan paham maknanya bahkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, untuk kemudian baru pindah pada sepuluh ayat berikutnya.

Pada zaman Nabi upaya penulisan sudah mulai dilakukan walaupun dengan media yang sangat sederhana di antaranya batu tulis, tulang-tulang, pelepah pohon. Riwayat dari Imam Al-Bukhori menerangkan sebagaimana berikut:

Ubaidullah mengatakan kepada kami dari Musa dari Israil dari Abi Ishaq dari al-Barraa’, rnengatakan: Ketika turun (ayat yang artinya:) {Tidaklah sama orang-orang yang berdiam diri dari para mu’min dengan mereka yang berjihad di jalan Allah } Nabi Saw. berkata : panggilkan untukku Zaid dengan membawa batu tulis dan tinta serta tulang, atau tulang dan tinta, kemudian berkata: tulislah {Tidaklah sama orang-orang yang berdiam diri}…..22

Riwayat lain menyebutkan media lain berupa pelepah pohon.23 Dengan media seperti di atas maka logis sekali jika diriwayatkan bahwa lembaran-lembaran al-Qur’an tersebut memenuhi satu ruang (gudang) ditempat Hafsah, istri Nabi Muhammad Saw.

Upaya penulisan yang mereka lakukan bahkan terbilang ketat, sebab penulisan selain wahyu oleh para sahabat tidak diperbolehkan oleh Rasulullah Saw. dengan begitu wahyu Allah tidak tercampur oleh perkataan dan perilaku Nabi yang kemudian disebut Hadits. Berikut ini riwayat dari Imam Muslim berkenaan dengan masalah ini:

Berkata kepada kami Haddaab bin khaalid al-Azdy, berkata kepapa kami Hammaam dari Zaid bin Aslam dari A’athaa’ bin Yasar dari Abi Sa ‘iid al-Khudry, bahwa Rasulullah Saw. bersabda : “Janganlah kalian menulis apa-apa dariku, barang siapa menulis dariku selain al-Qur’an maka hendaklah ia menghapusnya, dan berbicaralah tentang diriku dan itu diperbolehkan, dan barang siapa dengan sengaja berbohong atas diriku maka bersiap-siaplah untuk tinggal di Neraka (HR. Muslim)

Penulis wahyu yang ditunjuk oleh Rasulullah pada masa itu ada empat orang dari kaum Anshor yaitu : Mu’aadz bin Jabal, Ubay bin Ka’b, Zaid bin Tsaabit dan Abu Zaid,25 dalam riwayat lain menyebutkan : Abu ad-Darda’, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid. Selain mereka juga ada beberapa sahabat Yang menulis untuk diri mereka sendiri.26 Penulisan yang dilakukan oleh Aisyah bahkan sudah berbentuk mushhaf (berbentuk seperti buku) sebagaimana tersebut dalam riwayat berikut ini :

Dan berkata kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamiimy ia mengatakan saya belajar dari Malik dari Zaid bin Aslam dari al-Qa ‘qaa’ bin Hakim dari Abi Yunus pembantu ‘Aisyah bahwa ia mengatakarn : Aisyah menyuruhku menulis untuknya mushhaf dan ia mengatakan jika sudah sampai pada ayat ini maka panggil saya [Jagalah oleh kalian sholat sholat (kalian) dan sholat pertengahan] maka ketika sudah sampai pada ayat ini aku memanggilnya dan ia (Aisyah) lantas mengimlakkan kepadaku [Jagalah oleh kalian sholat sholat (kalian) dan sholat pertengahan] serta sholat ashar (dan berdirilah di hadapan Allah dengan khusyu’] Aisyah mengatakan saya mendengarnya dari Rasulullah Saw. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.27

Sangat tidak masuk akal jika Dr. Robert Morey menyatakan bahwa tulisan al-Qur’an telah hilang karena yang tertulis di atas tulang telah pudar dan yang ditulis di atas daun telah dimakan oleh binatang, alasan yang kekanak-kanakan.28

Selain adanya upaya penulisan, maka upaya penjagaan melalui hafalan adalah kegiatan yang umum dilakukan oleh para sahabat, di mana para sahabat saat itu akan merasa malu jika tidak hafal al-Qur’an. Sebegitu merebaknya tradisi hafalan tersebut hingga ada riwayat yang mengatakan bahwa dari sekian jumlah penduduk muslim Madinah saat itu hanya 4-6 orang saja yang tidak hafal.

Tradisi periwayatan lisan (hafalan) dalam budaya Arab sangatlah kental, apalagi pada masa Rasulullah Saw. di mana budaya baca tulis belum meluas -budaya tulis menulis setelah 1,5 abad kemudian-. Begitu kentalnya hingga mereka menemukan metode periwayatan yang ekstra hati-hati. Dalam metode yang mereka pakai dikenal adanya istilah Jarh wa at ta ‘diil (kritik dan seleksi atas kredibelitas perowi), sehingga suatu riwayat yang datang dari seorang yang tidak dipercaya tidak akan digunakan. Masing-masing riwayat yang diakui juga memiliki kriteria sendiri berdasarkan keutuhan matan (materi riwayat), sanad (silsilah riwayat sampai ke sumbernya), serta periwayat, baik jumlah maupun kredibelitasnya.29

Dengan tradisi periwayatan dan hafalan seperti diatas, tentu saja al-Qur’an mendapatkan perlakuan yang paling Istimewa. Apalagi metode pengajaran al-Qur’an yang diterapkan pada masa itu salah satunya adalah metode at-Talaqqy wal `ardl (tatap rnuka langsung antara guru dan murid dengan komunikasi dua arah, dengan system learning and presentation) yang akhirnya menjadi dasar-dasar dalam kodifikasi al-Qur’an, yaitu: “Mengambil materi riwayat yang paling akurat serta cara periwayatan yang paling benar, bukan sekedar yang umum clan sesuai dengan standar bahasa Arab “.30

Riwayat-riwayat berikut ini mungkin akan memperjelas tentang masalah ini :

Dari ‘Fathimah ra, “Nabi Saw membisikkan kepadaku: ‘Jibril telah mengajariku al-Qur’an setiap tahunnya, dan dia mengajariku tahun ini dua kali, dan aku tidak melihat itu kecuali ajalku telah dekat” (HR. Bukhari) .31

Riwayat di atas menerangkan bahwa al-Qur’an selalu diajarkan oleh Jibril kepada Nabi, sebagai pembawa wahyu, yaitu pada bulan Ramadlan pada setiap tahunnya hingga masa berakhirnya penurunan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. Pada tahun yang terakhir, menjelang wafatnya, Jibril datang dua kali untuk mengajariNya al-Qur’an.

(Riwayat ini sekaligus menepis anggapan Dr. Robert Morey yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. tidak mengetahui kapan beliau akan wafat.)

Pandangan pewahyuan melalui Jibril utusan Allah untuk disampaikan kepada Rasulullah -salah satu caranya dengan dibacakan- secara gradual selama 23 tahun lebih dapat diterima akal ketimbang penggambaran satu buku diturunkan dari langit. Pengajaran dengan system at-talaqqy wal `ardli yang dilakukan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad Saw tersebut diteruskan kepada para sahabat seperti yang dituturkan oleh riwayat berikut ini :

Dan berkata kepada kami Amru an-Naqid, berkata kepada kami Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad, berkata kepada kami Ayahku dari Muhammad bin Ishaq ia mengatakan, berkata kepadaku Abdullah bin Abi Bakar bin Muharnmad bin Amru bin Hazm al-anshaary dari Yahya bin ‘Abdullah bin Abdirrahman bin Sa’ad bin Zurarah dari Ummi Hisyam binti Haritsah bin an-Nu’man mengatakan: Tungku api kami dan tungku api Rasulullah adalah satu selama satu atau dua tahun atau lebih, dan saya tidak pernah mengambil (menghafalkan) (surat) Qaaf dari al-Qur’an yang mulia kecuali dari lisan Rasulullah Saw. yang selalu beliau baca pada hari jum’at di atas mimbar ketika berkhutbah dihadapan jama’ah. (HR. Muslim) .32

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah seringl:ali meminta sahabatnya untuk membacakan al-Qur’an dihadapannya 33. Diantara para sahabat yang ditunjuk oleh Rasulullah untuk mengajarkan al-Qur’an adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim, Mu’adz, serta Ubay bin Ka `b .34

Memang agak naif jika seseorang mempersoalkan masalah hafalan yang seakan-akan hanya dilakukan oleh satu orang saja, seperti pernyataan Dr. Robert Morey berikut :

Pengumpulan bahan-bahan al-Qur’an berlangsung beberapa tahun. Banyak masalah muncul karena daya ingat dan hafalan-hafalan seseorang fidak persis sama dengan orang lain. Hal ini merupakan salah safu kelemahan manusia yang tidak dapaf diabaikan. 35

Dr. Robert Morey sangat meremehkan kalangannya senditi dengan menganggap mereka tidak bisa membedakan antara manusia sebagai individu clan manusia sebagai umat. Sebagai individu mungkin saja manusia berkurang daya ingatnya, tapi sebagai ummat hafalan bahkan semakin kuat seiring usaha yang mereka lakukan dari generasi ke generasi. Umat adalah komunitas dan bukan satu orang. Usia umat tidak seperti usia satu orang, usia ummat bisa berabad bahkan beribu tahun hingga kemusnahannya. Usia umat Islam sendiri sudah mencapai ±14 abad.

NOTES

18. Didalam Perjanjian Lama terdapat Taurat (bahasa Semit) yang Dalam bahasa Latin disebut : Pentateuque yang artinya kitab yang terdiri daripada lima bagian : “Kejadian, Keluaran, Imamat orang Levi, bilangan dan ulangan. Orang-orang Yahttdi dan Kristen beranggapan bahwa pengarang Kitab Taurat adalah Nabi Musa. Untuk itu perlu diuji , antara lain tentang kematian Nabi Musa dan kemudian ia menulis tentang kematiannya sendiri ? ( Ul. 34 : 5 ).
19. Dogmatika Masa Kini, BPK Jakarta, 1976, hal. 298
20. Ikhtisar Dogmatika, BPK Jakarta, 1965 hal. 47
21. hal ini bisa dihitung dari jumlah surat makky dan madany.
22. Al-Bukhari, Shahih Al-Bulchari, Daar al-Fikr, Beirut, 1994, Vol. Vl, hal. 123.
23. Imam Ahmad Ibn Hambal, Musnad, Daar al-Fikr, Beirut, vol. V, hal. 185.
24. Imam Muslim, Shahih Muslim, Daar al-Fikr, Beirut, 1993, Jilid II, hal. 710.
25. Ibid, II/474
26. Diantaranya adalah Siti ‘Aisyah, Ibnu Mas’ud, Umi Waroqoh binti Abdillah bin Harits, Ubay bin Ka’b, Imam Ali, Ibn Mas’ud dll.
27. Muslim, I/280.
28. Robert Morey, Op. citl., hal 128
29. Metode periwayatan tersebut dikenal dengan ilmu Mushtolah al-Hadits, dan sudah maklum dalam tradisi dan khazanah keilmuan Islam.
30. As-Suyuthi, al-Itqaan fi Ulum al-Qur’an, Daar al-Fikr, Beirut, Cet. III, Th. 1951, Vol. I, hal. 77. 78
31. Al-Bukhari, VI/123.
32. Muslim, I/382.
33. Al-Bukhari, VI/138.
34. Ibid, VI/124.
35 Robert Morey, op. cit., ha1128.
 
0leh : Irene Handono

Menjawab Tuduhan Allah Adalah Dewa Bulan

oleh :Irene Handono

Menjawab Buku The Islamic Invasion (Robert Morey)

Tradisi Kristen yang telah kita bahas diatas rupanya ingin diimbaskan kepada ajaran Islam dengan mengembalikan ajaran Islam pada paganisme Arab dan menghilangkan fakta sejarah bahwa paganisme Arab tersebut adalah paham yang diperangi habis-habisan oleh Rasulullah dan umatnya. Oleh sebab itu maka Dr. Morey menyudutkan Islam dengan mengemukakan poin-poin hujatan berikut :

1. Bahwa Umat Islam menyembah dewa bulan.

2. Tentang Allah dalam Islam dan Tuhan dalam Bibel.

Pada hujatan pertama, Dr. Robert Morey ingin mengelabuhi masyarakat bahwa umat muslim adalah masyarakat pagan, sehingga negaranya mendapatkan pembenaran atas segala apa yang mereka perbuat terhadap negara-negara Islam yang ia nyatakan pagan. Sedang dalam poin kedua ia ingin memisahkan antara kepercayaan Kristen dengan Islam. Jika yang dimaksud adalah Kristen Trinitas maka adalah benar tidak sama, karena umat Islam menESAkan Tuhan sementara Kristen Trinitas “menyekutukan” Tuhan. Tapi kalau yang dimaksud adalah Kristen Unitarian (Nazaren/Nashoro) tentu saja masalahnya lain, karena mereka berpaham monoteisme. Suatu upaya pembuktian Class of Civilization yang ujung-ujungnya adalah kekuasaan dan Ekonomi (Minyak).

Dr. Robert Morey menyatakan bahwa Allah adalah nama dari Dewa Bulan yang disembah di Arab sebelum Islam. Hal ini ia kuatkan dengan pernyataan bahwa :

o Nama Allah sudah dikenal masyarakat Arab sebelum kenabian Muhammad.

o Adanya nama-nama seperti Qomaruddin, Syamsuddin.

o Kepercayaan Jahiliyah (PraIslam), agama Astral.

o Berhala yang ada di Ka’bah.

o Simbol bulan sabit.

Yang agak memalukan bahwa dalam membuktikan tuduhan-tuduhannya tersebut Pak Doktor ini banyak memanipulasi pernyataan dari penulis-penulis yang menjadi rujukannya. Sebagai Contoh :

– Untuk menguatkan pendapatnya bahwa “dewa bulan dipanggil dengan berbagai nama, salah satunya adalah Allah’” ia merujuk pada halaman 7 dari Buku Guillame yang berjudul Islam. Tetapi sebenarnya Guillame mengatakan di halaman yang sama : “Di Arab Allah telah dikenal dari sumber umat Kristen dan Yahudi sebagai Tuhan yang Esa, dan tidak ada keraguan meslvpun dia telah dikenal oleh Pagan Arab di Mekkah sebagai yang Tertinggi.”1

– Dr. Morey juga mengutip dari penulis non-Muslim Caesar Farah di ha128. Tetapi pada saat dirujuk dalam buku tersebut didapati bahwa Dr. Morey hanya mengutip sebagian dan meninggalkan pokok bahasan dari buku tersebut. Buku tersebut sebenarnya menyatakan bahwa Tuhan yang dipanggil il oleh orang Babilon dan EI oleh orang Israel telah dipanggil ilah, al-ilah, dan Allah di Arab. Farah mengatakan lebih lanjut pada halaman 31 bahwa sebelum Islam orang pagan telah mempercayai bahwa Allah adalah dewa tertinggi. Dikarenakan mereka sudah mempunyai 360 berhala, tetapi Allah bukan salah satu dari 360 berhala tersebut. Sebagaimana Caesar Farah menyatakan di halaman 56, bahwa Nabi Muhammad saw, telah menghancurkan berhala-berhala tersebut.

Nama Allah sebelum Islam

Adanya kata Allah sebelum masa Islam, seperti yang dikatakan Robert Morey bahwa Ayah Rasulullah bernama Abdullah (hamba Allah), tidak sepantasnya dijadikan alasan bahwa Allah tersebut adalah dewa bulan.

Seperti yang pernah kita bahas sebelum ini bahwa El, Eloy, Allah, Yahweh, Ya Hua, Elohem,Allahumma; adalah kata-kata yang dipakai oleh masing-masing bangsa -saat itu- untuk menyebut Tuhan. Dan kata Allah adalah kata yang dipakai oleh bangsa Arab untuk menyebut Tuhan khususnya oleh para Ahnaf (masyarakat Arab yang mengikuti tradisi Ibrahim). Dan nama itu tidak termasuk dalam jajaran nama-nama berhala dan dewa dewa Arab. Permasalahannnya bukan hanya pada kata-kata itu saja, kemudian kita menilai paham suatu masyarakat. Tapi pada cara penyikapan kepada “Tuhan” yang disebut menurut bahasa mereka sendiri-sendiri. Bangsa Israel yang menggunakan kata Yahweh untuk merefleksikan pemahaman mereka tentang konsep “Tuhan” dibimbing oleh rasul dan nabi mereka untuk meluruskan pemahaman dan penyikapan terhadap Tuhan yang mereka sebut Yahweh. Begitu juga masyarakat Arab yang pada masa jahiliyah memakai kata Allah untuk menyebut Tuhan dibimbing oleh Rasulullah Saw untuk menyikapi dan memahami apa yang mereka sebut Allah itu. Cara penyikapan inilah yang diajarkan oleh masing-masing rasul dan nabi kepada umatnya, yaitu meng-ESA-kan. Kalau ukurannya hanya pada tataran kata saja untuk menilai paham suatu umat, maka Yahudi dan Kristen luga pagan, karena nama “EL’ yang dipakai IsraEL adalah Tuhan dari bangsa Kan’an yang menurut mereka pagan.

Qomaruddin dan Syamsuddin

Pembaca dari kalangan Muslim mungkin akan tertawa ketika dikatakan bahwa nama-nama Cak Qomar dan Cak Udin luga kang Najam dijadikan bukti adanya penyembahan terhadap dewa bulan. Menurut Dr. Robert Morey :

Agama Penyembah Bulan disebut Komaruddin.

Komarun = Bulan; Dinun = Agama.2

Begitu juga dengan nama Syamsuddin dan Najmuddin, keduanya diterjemahkan dengan cara yang sama.

Komarun berarti bulan dan dinun berarti agama maka arti dari nama tersebut adalah “bulannya agama”, maksudnya seorang yang dengan agamanya berkiprah di masyarakatnya seperti bulan yang bersinar terang benderang, membawa nama baik agamanya. Begitu syamsuddin, di harapkan oleh orang tuanya agar lebih bersinar seperti matahari yang selalu memberi manfaat kepada manusia. Nama-nama muslim yang dinisbatkan kepada dien (agama) memiliki makna senada, seperti saifuddin (pedang agama), adalah harapan orang tuanya agar anaknya mampu membela agamanya ibarat sebuah pedang yang siap dipakai kapan saja. Sedang “penyembah bulan” kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ‘abid al-Qomar. Begitu juga dengan dua nama lainnya.

Masyarakat Arab pada masa pra Islam seringkali menamakan budaknya dengan nama-nama yang dapat menyenangkan hati mereka seperti nama Qomar dan Syams, diharapkan agar budaknya dapat menerangi mereka seperti namanya. Sedang untuk mereka sendiri, mereka memakai nama nama yang menyeramkan, untuk menakuti musuh-musuhnya, seperti Kilab (anjing-anjing), Asad (singa), Namir dan Fahd (harimau). Pada masa Rasulullah nama-nama jahiliyah banyak dinisbatkan langsung pada Allah, seperti Saifullah (pedang Allah), Asadullah (Singa Allah) dan lain sebagainya. Rasulullah meluruskan kebiasaan masyarakat Arab jahiliyah bahkan pada masalah nama.

Pada masa selanjutnya ketika perbudakan sudah terhapuskan, dan para mantan budak yang membentuk komunitas tersendiri, tampil dalam pemerintahan. Mereka dikenal sebagai kaum Mawali (orang-orang yang meminta perlindungan). Untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat yang sebelumnya adalah tuan-tuan mereka, maka mereka menisbatkan nama-nama, mereka kepada kata din (agama). Hal ini sejalan dengan perkembangan zaman yang tidak lagi menisbatkan nama-nama kepada tuan-tuannya, sebab zaman perbudakan sudah berakhir, dan semua mereka adalah sama dalam urusan agama. Maka kita melihat bahwa nama-nama seperti Qomaruddin dan Syamsuddin tidak pernah kita temukan pada masa jahiliyah, ataupun pada masa Rasulullah, nama-nama itu baru muncul kemudian pada saat mantan budak memegang tampuk pemerintahan.

Pada masa sekarang nama-nama di atas tidak dipakai untuk menyenangkan tuan, tidak juga untuk legalitas kekuasaan. Nama-nama itu dipakai umat muslim dengan maksud yang berbeda, karena mereka hanya melihat arti dari nama-nama itu, yang diharapkan pemiliknya dapat menjadi seperti namanya.

Kepercayaan masa Jahiliyah (Pra Islam)/Agama Astral

Menurut Dr. Morey : “Allah, dewa bulan, kawin dengan dewa matahari. Mereka berdua mempunyai tiga orang puteri yang disebut putri-putri Allah. Ketiga putri tersebut AI-Lata, AI Uzza, dan Manat”. Untuk memperkuat anggapannya ia memanipulasi pernyataan Guilluame seperti yang kita ungkap sebelum ini.

Bahwa masyarakat Arab pra Islam memiliki kepercayaan terhadap bintang dan bulan juga matahari memang benar, hanya saja Dr. Morey berhenti sampai disini untuk menyatakan bahwa yang disembah oleh umat Muslim adalah dewa bulan, padahal kepercayaan yang semacam inilah yang diserang dengan keras oleh Rasulullah tanpa kompromi sedikitpun. Itulah sebabnya maka masa tersebut dikatakan sebagai masa Jahiliyyah (zaman kebodohan). Terjemah ayat-ayat berikut ini akan menggambarkan bagaimana Rasulullah secara radikal menyerang kepercayaan masyarakatnya :

“ Maka apakah patut bagi kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al- Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan; Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama nama yang kamu dan bapak-bapak karnu mengada adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan rnereka. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita citakannya (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. ” (QS. An-Najm 19-25).

Berhala di dalam Ka’bah

Berikut ini adalah salah satu dari pernyataan tidak berdasar yang dilontarkan oleh Robert Morey : “Ada satu berhala Allah ditempatkan di ka’bah bersama dengan semua ilah-ilah berhala lain. Penyembah-penyembah berhala sembahyang menghadap Mekah clan Kaabah karena di sanalah dewa-dewa mereka disemayamkan”. Kita tidak tahu dari mana pak Doktor mendapatkan sumbernya, tapi yang jelas tidak pernah melihat Ka’bah secara langsung apalagi masuk di dalamnya.

Pada Masa Jahiliyah -tradisi menyebut demikian untuk membedakan antara masa kebenaran dan kebodohan-, banyak berhala ditempatkan di Ka’bah tapi tidak ada satupun berhala disebut Allah. Dan berhala-hala yang amat banyak tersebut telah dihancurkan oleh Rasulullah saat memasuki Makkah, setelah sebelumnya umat Islam diusir dari Makkah. Rasulullah sendiri pada saat sebelum menjadi nabi, pernah bersumpah dihadapan Khadijah istrinya bahwa beliau “tidak akan menyembah uzza selamanya”, hal ini jelas membedakan antara Allah dan ilah ilah lainnya, sebab saat itu agama Hanifah (jalan lurus) ajaran Ibrahim As. masih bertahan di Makkah, walaupun pengikutnya tidak sebanyak para pagan. Kini jangankan di Ka’bah di rumah seorang muslim saja tidak akan ada berhala. Sangat berbeda dengan Rumah dan Kantor Robert Morey yang mungkin memasang patung salib di sudut ruang atau kamarnya.

Dewa bulan dan Simbol Bulan Sabit

Simbol bulan sabit yang sering dipakai umat muslim dianggap sebagai simbol penyembahan dewa bulan oleh Dr. Robert Morey. la menyatakan : “Simbol penyembahan dewa bulan dalam budaya Arab dan di tempat-tempat lain di seluruh timur tengah adalah bulan sabit”. Gambar bintang yang biasa berada ditengah bulan sabit tidak disebut, karena Amerika memakai simbol bintang.

Dr. Robert Morey dan para orientalis Barat menuduh dengan bertanya kenapa umat Islam memakai simbol bulan sabit untuk agama mereka? Atau kenapa bulan dipakai untuk menandai bulan baru?. Mereka sengaja bertanya dengan logika yang salah dari sesuatu yang tersembunyi, sejak saat umat Islam memakai bulan sabit sebagai simbol, maka dikatakan bahwa umat Islam menyembah “dewa bulan”. Ini tidak benar sebagaimana anggapan bahwa sejak umat Yahudi mengambil bintang David sebagai simbol, maka umat Yahudi menyembah bintang, berarti umat Kristen juga menyembah patung salib saat mereka memakai simbol tersebut, atau menyembah matahari saat menggunakan tanda silang dari sinar matahari.

Islam tidak pernah mengajarkan untuk menyembah bulan. Dalam firman Allah disebutkan:

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. ” (QS. Fushshilat 37)

Ayat ini diperkuat dengan ayat lain, bahwa bulan bukanlah object penyembahan.

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalarn siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan “. (QS. Luqman 29).

Jika Allah adalah “dewa bulan” seperti yang dituduhkan oleh Dr. Morey, apa mungkin “dewa bulan” menciptakan bulan untuk dipakai oleh manusia?. Dengan bukti di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa umat Islam hanya menyembah `Allah” saja, dan bukan menyembah dewa bulan. Kepercayaan terhadap kekuatan benda-benda angkasa yang pernah berkembangan di Mesir, Babilonia, serta Asiria, mungkin saja mempengaruhi Jazirah Arab, sebab secara geografis letaknya tidaklah berjauhan; Hanya saja pada masa Rasulullah kepercayaan tersebut diluruskan dengan menempatkan benda-benda tersebut pada tempat dan fungsinya. Seperti bulan -misalnya-, seperti yang pernah ditanyakan oleh masyarakatArab kepada Rasulullah, ditempatkan sebatas untuk menandakan pergantian waktu. Sebagaimana Firman Allah di Surat Al Baqarah 189:

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji”.

Dari riwayat Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.: Untuk apa diciptakan bulan sabit?” maka turun ayat tersebut yang

memerintahkan Rasulullah untuk menjawab bahwa bulan adalah untuk menunjukkan waktu kepada manusia kapan mereka harus memakai pakaian ihram pada waktu haji dan kapan harus menanggalkannya, atau kapan mereka harus memulai puasa dan kapan harus mengakhirinya. Dari sini, dapat kita ketahui bahwa tidak ada kepentingan penyembahan kepada bulan, tetapi hanya sebagai Penunjuk pergantian waktu, seperti Haji clan Puasa. Pada masa Khalifah Umar umat Muslim membuat penanggalan berdasarkan hitungan bulan, yang dimulai sejak masa Hijrah.

Yang menarik untuk dicatat bahwa umat Yahudi juga memakai Penanggalan Hijriah untuk menandai perayaan suci mereka. Penanggalan keagamaan Umat Yahudi, yang aslinya dari Babilonia, terdiri dari 12 bulan Qomariah/Hijriah, terhitung 354 hari. Dan penghitungan hari dimulai dari tenggelamnya matahari sampai tenggelam lagi.3

Maka bila dikatakan bahwa Islam menyembah “dewa bulan” dikarenakan memakai penanggalan yang berdasarkan bulan, maka apakah agama orang Yahudi, yang juga memakai penanggalan yang berdasarkan bulan ? berdasarkan “logika” Dr. Robert Morey maka umat Yahudi ” juga “penyembah bulan”. Demikian juga bila umat Kristen memakai penanggalan yang berdasarkan perputaran matahari, apakah mereka juga menyembah matahari ? Mari kita simak keterangan berikut ini. Penanggalan yang pertama adalah penanggalan yang berdasarkan bulan. Kebudayaan kuno, seperti Siria, Babilonia, Egypt, dan Cina telah memakai penanggalan bulan, sebagaimana budaya Semit juga mengambil penanggalan bulan untuk menandai waktu mereka. Setelah kita ketahui kenyataan bahwa umat Yahudi dan Islam, dalam tradisi budaya Semit, sama-sama memakai penanggalan Qomariah untuk menandai bulan mereka. Maka kenapa umat Kristen memakai penanggalan yang berdasarkan matahari menggantikan penanggalan bulan. Hal ini berkaitan erat dengan rekayasa perayaan natal tanggal 25 Desember clan pengaruh pemikiran-pemikiran pagan yang berporos pada penyembahan dewa Re (dewa matahari) dalam Kristen. Untuk melengkapi bahasan ini, maka akan kami sertakan secara ringkas kajian tentang perayaan natal 25 Desember oleh umat Kristen.

Fushshilat 41:37 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.”


Al Baqarah 2:189 “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

Asal Usul Perayaan Natal 25 Desember

Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.

Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.

Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katholik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari; day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.

Maka supaya agama Katholik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya/ penyem-bahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan=Yesus). Maka pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, Juga diputuskan: Pertama , hari Minggu (Sunday = hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu. Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. Ketiga, membuat patung-patung Yesus untuk menggantikan patung Dewa Matahari.

Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke- 4 Masehi, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katholik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama paganisme politheisme nenek moyang.

Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang. Darimana kepercayaan paganis politheisme mendapat ajaran tentang dewa matahari yang diperingati tanggal 25 Desember?

Mari kita telusuri melalui Bibel maupun sejarah kepercayaan paganis yang dianut oleh bangsa Babilonia kuno didalam kekuasaan raja Nimrod (Namrud).

Putaran jaman menyatakan bahwa penyembah berhala versi Babilonia ini berubah menjadi “Mesiah palsu”, berupa dewa “13a-al” anak dewa matahari dengan obyek penyembahan “Ibu dan Anak” (Semiramis dan Namrud) yang lahir kembali. Ajaran tersebut menjalar ke negara lain: Di Mesir berupa “Isis dan Osiris”, di Asia bernama “Cybele dan Deoius”, di Roma disebut Fortuna dan Yupiter”, bahkan di Yunani. “Kwan Im” di Cina, Jepang, dan Tibet. Di India, Persia, Afrika, Eropa, dan Meksiko juga ditemukan adat pemujaan terhadap dewa “Madonna” dan lain-lain.

Dewa-dewa berikut dimitoskan lahir pada tanggal 25 Desember, dilahirkan oleh gadis perawan (tanpa bapak), mengalami kematian (salib) dan dipercaya sebagai Juru Selamat (Penebus Dosa):

1. Dewa Mithras (Mitra) di Iran, yang juga diyakini dilahirkan dalam sebuah gua dan mempunyai 12 orang murid. Dia juga disebut sebagai Sang Penyelamat, karena ia pun mengalami kematian, dan dikuburkan, tapi bangkit kembali. Kepercayaan ini menjalar hingga Eropa. Konstantin termasuk salah seorang pengagum sekaligus penganut kepercayaan ini.

2. Apollo, yang terkenal memiliki 12 jasa dan menguasai 12 bintang/planet.

3. Hercules yang terkenal sebagai pahlawan perang tak tertandingi.

4. Ba-al yang disembah orang-orang Israel adalah dewa penduduk asli tanah Kana’an yang terkenal juga sebagai dewa kesuburan.

5. Dewa Ra, sembahan orang-orang Mesir kuno; kepercayaan ini menyebar hingga ke Romawi dan diperingati secara besar-besaran dan dijadikan sebagai pesta rakyat.

Demikian juga Serapsis, Attis, Isis, Horus, Adonis, Bacchus, Krisna, Osiris, Syamas, Kybele dan lain-lain. Selain itu ada lagi tokoh/pahlawan pada suatu bangsa yang oleh mereka diyakini dilahirkan oleh perawan, antara lain Zorates (bangsa Persia) dan Fo Hi (bangsa Cina). Demikian pula pahlawan-pahlawan Helenisme: Agis, Celomenes, Eunus, Soluius, Aristonicus, Tibarius, Grocecus, Yupiter, Minersa, Easter.

Jadi, konsep bahwa Tuhan itu dilahirkan seorang perawan pada tanggal 25 Desember, disalib/dibunuh kemudian dibangkitkan, sudah ada sejak zaman purba4.

Konsep/dogma agama bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tiga pribadi, dengan sangat mudahnya diterima oleh kalangan masyarakat Romawi karena mereka telah memiliki konsep itu sebelumnya. Mereka tinggal mengubah nama-nama dewa menjadi Yesus. Maka dengan jujur Paulus mengakui bahwa dogma-dogma tersebut hanyalah kebohongan yang sengaja dibuatnya. Kata Paulus kepada Jemaat di Roma:

“Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliannya; mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? (Roma 3:7) “.

Mengenai kemungkinan terjadinya pendustaan itu, Yesus telah mensinyalir lewat pesannya:

Jawab Yesus kepada mereka : “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan berkata Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang”. (Matius 24:4-5)”.

NOTES

1.Mohd Elfi Nieshaem Juferi, www. Bismikallahumma.org.
2. Ibid 56.
3. lihat http://www.webear.com/reliengl.htm#*top4, dalam Mohd Elfi Nieshaem Juferi, www. Bismikallahumma.org.
4. Keterangan lebih jelas lihat buku saya, Hj. Irena Handono, Perayaan Natal 25 Desember -Antara Dogma dan Toleransi”, Bima Rodheta, 2003

Menjawab Tuduhan Muhammad Adalah Seorang Yang Narsis

From Belief to Enlightenment by Ali Sina

http://www.indonesia.faithfreedom.org/oldforum/viewtopic.php?t=6478

Cuplikan dari artikel Ali Sina diatas.

Seorang narsisis adalah orang yg tidak menerima cukup cinta kasih pada masa kecilnya, yg tidak mampu mencintai namun sebaliknya sangat haus akan perhatian, respek dan pengakuan. Harga dirinya diukur dari cara orang lain memandangnya. Tanpa pengakuan ini, ia kehilangan semuanya. Ia menjadi manipulatif dan seorang pembohong memalukan.

Narsisis adalah pemimpi grandios. Mereka ingin menjajah dunia dan mendominasi siappaun. Megalomania-nya menjadi sumber narsisisme-nya. Tujuan mereka selalu berhubungan dgn dominasi, kekuasaan dan respek. Narsisis sering mencari alibi utk menguasai korban2nya yg naif & tidak menduga apa2. Bagi Hitler sumbernya adalah partai dan ras, bagi Mussolini, rasisme atau kesatuan bangsa melawan orang lain. Bagi Muhamad adalah agamanya. Sebab2 ini hanyalah alat mencapai kekuasaan. Ketimbang mempromosi diri sendiri, para narsisis mempromosikan sebuah sebab, ideologi, atau agama sambil tentunya menawarkan diri mereka sendiri sbg satu2nya otoritas dan wakil dari ideologi tsb. (…) Muhamad tidak dapat meminta siapapun utk menurutinya. Tapi ia dgn mudah menuntut pengikutnya agar mematuhi Allah dan rasulNya. Tentu Allah hanyalah alter ego-nya Muhamad, karena pada akhrinya semua kepatuhan berujung pada keuntungan dirinya sendiri.

Dr. Sam Vaknin, penulis “Malignant Self Love – Narcissism Revisited” explains: ‘’Setiap orang adalah seorang narsisis, dgn derajad yg berbeda2. Narsisisme adalah fenomena sehat yg bisa membantu ‘survival’ (keselamatan diri).’ Bedanya antara narsisme sehat dan narsisisme tidak sehat (pathologis) adalah pada kadarnya.

Pathological narcissism dlm bentuk ekstrimnya adalah NPD (Narcissistic Pathological Disorder), yg ciri khasnya adalah tidak mampunya penderita merasakan apa yg dirasakan pihak lain (kurangnya ’empathy’). Sang narsisis menganggap dan memperlakukan orang lain sbg obyek utk di-eksploitasi. Ia menggunakan mereka utk mendapatkan ‘suplai narsistik.’

Ia percaya bahwa ia memang berhak mendapatkan perlakukan khusus karena ia memiliki mimpi2 grandios ini ttg dirinya sendiri.

Sang narsisis TIDAK sadar diri. Emosi dan daya terimanya mengalami distorsi.’

Jelas itu tadi diagnose bagi Muhamad. Ia orang biadab tanpa perasaan manusiawi. Ketika ia memutskan bahwa kaum yahudi tidak lagi berguna baginya dan ia memerlukan harta mereka utk mendukung rencananya, ia tidak lagi berbasa basi pada mereka dan menghabiskan mereka semuanya. Ia membunuhi setiap Yahudi dan Kristen di Arabia .

Muhamad adalah lelaki yg sakit secara emosional yg tidak mampu menguasai diri sendiri. Ia anak yatim yg sebelum usia delapan dioper 8 kali dari satu keluarga ke keluarga lain. Begitu ia mulai dekat dgn seorang keluarganya, mereka mati dan ia segera di-oper ke rumah tangga lain. Ini pasti menyengsarakan dirinya dan sangat merusak kesehatan emosionalnya. Sbg anak kecil, ia kekurangan kasih dan perasaan memiliki (‘sense of belonging’), ia tumbuh dgn perasaan takut dan kurang PD. Ia meng-kompensasinya dgn menjadi seorang narsisis.

Muhamad adalah lelaki yg memiliki luka2 emosional yg sangat dalam. Dr. Vaknin menulis bahwa seorang narsisis ‘’berbohong pada dirinya sendiri dan orang lain, menunjukkan ‘’untouchability’’, imunitas emosional dan

invincibility (tidak kelihatan). Bagi seorang narsisis ‘’semua adalah lebih besar dari hidup itu sendiri. Utk bertingkah sopanpun, ia harus berlebihan. Janji2nya sangat luar biasa dan kritik2nya dilontarkan dgn keras dan bertubi2, kemurahan hatinya sangat berlebihan.’’

Bukankah ini persis kelakuan sang nabi ?

——————————-

Artikel ini merujuk ke situs2 berikut ini :

Dr. Sam Valkin: Malignant Self Love –Narcissism revisited:

Koenraad Elst: -Wahi: the Supernatural Basis of Islam

ali Zina wrote:

Seorang narsisis adalah orang yg tidak menerima cukup cinta kasih pada masa kecilnya, yg tidak mampu mencintai namun sebaliknya sangat haus akan perhatian, respek dan pengakuan. Harga dirinya diukur dari cara orang lain memandangnya. Tanpa pengakuan ini, ia kehilangan semuanya. Ia menjadi manipulatif dan seorang pembohong memalukan.

apa sudah baca riwayat ini bung ?

Sunan Abu Dawud, Book 41, Number 5211:

Narrated AbuUmamah:

The Apostle of Allah (peace_be_upon_him) came out to us leaning on a stick. We stood up to show respect to him. He said: Do not stand up as foreigners do for showing respect to one another.

Diriwayatkan Abu Umamah;

Nabi Allah Saw datang kepada kami memakai tongkat. Kami berdiri untuk menunjukkan rasa HORMAT kepada beliau. Beliau bersabda : Jangan berdiri seperti orang2 asing memberi hormat satu sama lain.

Ali Zina wrote:

Narsisis adalah pemimpi grandios. Mereka ingin menjajah dunia dan mendominasi siappaun. Megalomania-nya menjadi sumber narsisisme-nya. (…)Tujuan mereka selalu berhubungan dgn dominasi, kekuasaan dan respek.

nih ada kisah buat den Zina …

Tawaran Kafir Quraisy untuk duniawi

Ukhbah bin Rabi’ah

Hari itu para pembesar Quraisy mengadakan sidang umum. Mereka memperbincangkan berkembangnya gerakan baru yang diasaskan Muhammad. Ada dua pilihan. To shoot it out atau to talk it out. Membasmi gerakan itu sampai habis atau mengajaknya bicara sampai tuntas. Pilihan kedua yang diambil.

Untuk itu serombongan Quraisy menemui Nabi saw. Beliau sedang berada di masjid. Utbah bin Rabi’ah anggota Dar al-Nadwah (parlemen) yang paling pandai berbicara, berkata :

“Wahai kemenakanku! Aku memandangmu sebagai orang yang terpandang dan termulia diantara kami. Tiba-tiba engkau datang kepada kami membawa paham baru yang tidak pernah dibawa oleh siapapun sebelum engkau. Kauresahkan masyarakat, kautimbulkan perpecahan, kaucela agama kami. Kami khawatir suatu kali terjadilah peperangan diantara kita hingga kita semua binasa.Apa sebetulnya yang kau kehendaki. Jika kauinginkan harta, akan kami kumpulkan kekayaan dan engkau menjadi orang terkaya diantara kami. Jika kau inginkan kemuliaan, akan kami muliakan engkau sehingga engkau menjadi orang yang paling mulia. Kami tidak akan memutuskan sesuatu tanpa meminta pertimbanganmu. Atau, jika ada penyakit yang mengganggumu, yang tidak dapat kauatasi, akan kami curahkan semua perbendaharaan kami sehingga kami dapatkan obat untuk menyembuhkanmu. Atau mungkin kauinginkan kekuasaan, kami jadikan kamu penguasa kami semua.”

Nabi saw mendengarkan dengan sabar. Tidak sekalipun beliau memotong pembicaraannya. ketika Utbah berhenti,

Nabi bertanya, “Sudah selesaikah ya Abal Walid?”

Sudah, kata Utbah. Nabi membalas ucapan Utbah dengan membaca surat Fushilat: “Ha mim. Diturunkan al-Qur’an dari Dia yang Mahakasih Mahasayang. sebuah kitab, yang ayat-ayatnya dijelaskan. Qur’an dalam bahasa Arab untuk kaum yang berilmu…..” Nabi saw terus membaca. ketika sampai ayat sajdah, ia bersujud.

Sementara itu Utbah duduk mendengarkan sampai Nabi menyelesaikan bacaannya. kemudian, ia berdiri. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kaumnya berkata, “Lihat, Utbah datang membawa wajah yang lain.”

Utbah duduk di tengah-tengah mereka. Perlahan-lahan ia berbicara,

“Wahai kaum Quraisy, aku sudah berbicara seperti yang kalian perintahkan. Setelah aku berbicara, ia menjawabku dengan suatu pembicaraan. Demi Allah, kedua telingaku belum pernah mendengar ucapan seperti itu. Aku tidak tahu apa yang diucapkannya. Wahai kaum Quraisy! Patuhi aku hari ini. kelak boleh kalian membantahku. Biarkan laki-laki itu bicara. Tinggalkan dia. Demi Allah, ia tidak akan berhenti dari gerakannya. Jika ia menang, kemuliannya adalah kemulianmu juga.”

Orang-orang Quraisy berteriak, “Celaka kamu, hai Abul Walid. Kamu sudah mengikuti Muhammad”. Orang Quraisy ternyata tidak mengikuti nasihat Utbah

(Hayat al-Shahabah 1:37-40; Tafsir al-durr al-Mansur 7:309, Tafsir Ibn Katsir 4:90, Tafsir Mizan 17:371).

Abu Thalib pun membujuk Nabi …tapi apa kata Nabi ?

Sirat Rasul Allah by Ibnu Ishaq, book 3. revelation

After this visit, Abu Talib sent for the apostle and said, ‘Consider my life and yours, and do not burden me with what I cannot bear.’ The apostle of Allah feared from these words that his uncle, being too weak, had determined to desert him and he replied, ‘If they were to place the sun in my right and the moon in my left hand, I would not abandon my mission.’ Then tears started in his eyes and he wept. But when he turned to depart Abu Talib said, ‘Nephew! Go, and speak what you wish. By Allah! I shall never fail you.’

ali Zina wrote:

berujung pada keuntungan dirinya sendiri

Bloon amat nih kafir …keuntungan diri sendiri mana … harta yg berlimpah tdk menjadikan Nabi kaya karena semua buat orang lain bukan keuntngan diri sendiri.

Sahih Muslim, Book 009, Number 3507:

Umar b. al-Khattab (Allah be pleased with him) reported: When Allah’s Apostle (may peace be upon him) kept himself away from his wives,…………. . I raised my voice and he pointed me to climb up (and get into his apartment). I visited Allah’s Messenger (may peace be upon him), and he was lying on a mat. I sat down and he drew up his lower garment over him and he had nothing (else) over him, and that the mat had left its marks on his sides. I looked with my eyes in the store room of Allah’s Messenger (may peace be upon him). I found only a handful of barley equal to one sa’ and an equal quantity of the leaves of Mimosa Flava placed in the nook of the cell, and a semi-tanned leather bag hanging (in one side), and I was moved to tears (on seeing this extremely austere living of the Holy Piophet), and he said: Ibn Khattab, what wakes you weep?

I said: Apostle of Allah, why should I not shed tears? This mat has left its marks on your sides and I do not see in your store room (except these few things) that I have seen; Ceasar and Closroes are leading their lives in plenty whereas you are Allah’s Messenger. His chosen one, and that is your store! He said: Ibn Khattab, aren’t you satisfied that for us (there should be the prosperity) of the Hereafter, and for them (there should be the prosperity of) this world? I said: Yes.

Terjemah :

Aku kencangkan suara ku dan ia menyuruh ku untuk naik ( dan memasuki ruangan beliau). Aku mendatangi Rasul allah (SAW), dan ia sedang berbaring di atas tikar. Aku duduk dan beliau merapihkan pakaian dan menaikkan sarungnya dan ia tidak memiliki apapun (selain itu), dan tikar membekas pada rusuknya.

Aku perhatikan sekeliling gudang itu, aku tdk melihat berisi apa-apa kecuali seonggok gandum kira2 segantang dan qarazh sebanyak itu pula terletak di sudut dinding, dan sehelai kulit sedang tergantung. Itulah hanya isi gudang beliau.

Melihat keadaan seperti itu air mata ku mengalir bercucuran. Lalu beliau bertanya: “mengapa anda menangis, hai anak khattab?” jawabku :”Ya Nabi allah aku menangis karena melihat tikar ini membekas dirusuk anda. Dan gudang ini tidak ada apa2 yg tersimpan di dalamnya. Padahal gudang kaisar Romawi dan Kisra Persia berlimpah-limpah dengan buah-buahan dan serba cukup adanya. Sedankan anda adalah Rasul Allah dan pilihan Nya. Beginilah hanya keadaan gudang simpanan anda ¿”

Sabda Nabi SAW

“hai Anak Khattab ¡ tidakkah kau suka, akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka ¿ “ jawab ku “aku Suka ya Rasulullah”

Sekilas Bible King James

The greatest method of deception is to counterfeit.
And the master of counterfeit and deception is Satan.

The Bible in 2 Corinthians 11:14-15 warns of Satan’s counterfeit: “And no marvel; for Satan himself is transformed into an angel of light. Therefore it is no great thing if his ministers also be transformed as the ministers of righteousness;. . .” Isaiah 14: 14 tells of Satan’s ultimate counterfeit: “. . . I will BE LIKE the most High.”

And among his greatest counterfeit’s is the New King James Bible (NKJV). Christians that would never touch a New International Version (NIV), New American Standard (NASV), Revised Standard (RSV), the New Revised Standard (NRSV) or other per-versions are being “seduced” by the subtil NKJV.

And though the New King James does indeed bear a “likeness” to the 1611 King James Bible, as you’ll soon see, there’s something else coiled (see Genesis 3:1) “underneath the cover” of the NKJV.

WHAT ABOUT THAT MYSTERIOUS MARK?

Symbols are used throughout the occult. Harpers’ Encyclopedia of Mystical & Paranormal Experience (p.594) says, “Symbols are important to all esoteric teachings, for they contain secret wisdom accessible only to the initiated.”Many people have asked about the mysterious symbol on the NKJV.

Thomas Nelson Publishers (publishers of the NKJV) claim, on the inside-cover, the symbol, “. . .is an ancient symbol for the Trinity.” But Acts 17:29, clearly FORBIDS such symbology: “. . . we ought NOT to think that the Godhead is like unto gold, or silver, or stone, GRAVEN BY ART and man’s device.”

And why does The Aquarian Conspiracy, a key New Age “handbook”, bear a similar symbol? New Agers freely admit it represents three inter-woven “6”s or “666”.

Constance Cumbey, author of The Hidden Dangers of the Rainbow and a notable authority on the New Age Movement, said, “On the cover of the Aquarian Conspiracy is a Mobius, it is really used by them as triple six (666). The emblem on the cover of the New King James Bible is said to be an ancient symbol of the Trinity. The old symbol had gnostic origins. It was more gnostic than Christian. I was rather alarmed when I noticed the emblem… (The New Age Movement, Southwest Radio Church, 1982 p.11)

The three esoteric “6”‘s separated.
Plainly displaying the interlocked “666”.

The Triqueta is used as the centerpiece for the logo for The Institute of Transpersonal Psychology (ITP). The ITP is a new age school following the Jungian Psychology [occultist Carl Jung]. One of their stated goals is “. . . to reach the recognition of divinity within”(www.itp.edu/about/tp.html) (see Genesis 3:5, “…ye shall be as gods…”)The same symbol (with a circle) is displayed by the rock group Led Zeppelin. Members of Led Zeppelin are deeply involved in satanism and the occult. Guitarist Jimmy Page, so consumed with satanism, actually purchased satanist Aleister Crowley’s mansion. Most believe the symbol is from the teachings of Aleister Crowley and represents 666.

The following picture is “The Hierophant” taken from the Tarot card set designed by satanist Aliester Crowley. The “Hierophant” is a priest in the occult and Eleusinian. Notice the “three circles” at the top of the wand or rod in the Hierphant’s hand. Inside the the three intertwined circles is the “NKJV symbol”.

To the right is the top of the wand enlarged. Notice the “NKJV symbol” (upside down) inside the three circles.

One of the most occultic television shows ever aired is “Charmed”. “Charmed” details the spells and occultic practices of three witches. The “NKJV symbol” is the show’s primary symbol of witchcraft and is splattered throughout the series. Notice the “NKJV symbol” displayed on “The Book of Shadows”. The Book of Shadows is commonly used in withcraft and satanism:

Book of Shadows: Also called a grimoire, this journal kept either by individual witches or satanists or by a coven or group, records the activities of the group and the incantations used. (Jerry Johnston, The Edge of Evil: The Rise of Satanism on North America, p. 269)

THE NKJV & WITCHCRAFT?The Craft: A Witch’s Book of Shadows
The Witch’s Book of Shadows or Grimoire is a book of spells, enchantments, and rituals. Includes Rituals, Spells, and Wicca EthicsThe Craft Companion: A Witch’s JournalBy Dorothy Morrison, a high priest of Witchcraft.

NOTE: We circled (in YELLOW and RED), and also enlarged to the side The NKJV symbol.

Here’s some examples of Satanic and Pagan Jewelry which includes the NKJV logo.
LEFT BOX: Notice the satanic pentagram ring in the top right corner. The ring with the NKJV logo is the fourth down on the left, we highlighted it with a yellow circle.
BOTTOM BOX: Notice the very satanic Baphomet Goat.
We broke out and colored the NKJV symbol found in the other two satanic pieces of jewelry.

LEFT: The image on the left is from the rock group Deicide’s album “Once Upon the Cross”. It is a triquetra (the NKJV logo) with pentagrams and upside down crosses. The group Deicide members are very serious Satanists. Lead Singer Glen Benton has an upside down cross branded on his forehead. The inside cover of the album “Once Upon the Cross” has the Lord Jesus Christ, sliced up the middle, with his insides removed. The name Deicide means the death of God.

RIGHT: The triquetra (the NKJV logo) is also the logo for the Rap / Metal band P.O.D.

The book “Blood on the Doorposts” by former Satanists, Bill and Sharon Schnoebelen, also documents the “trio of sixes (666)” in the “NKJV symbol” and goes so far as claim it is “symbolic of the anti-christ”:

“A disguised interlocked trio of sixes, symbolic of the anti-christ. Also symbolizes the triple goddess of Wicca (three interlocked vesica pisces together). Commonly used in Catholic liturgical iconography, and has recently found its way into the logo of the New King James Bible.” (Bill and Sharon Schnoebelen, Blood on the Doorposts, p. 150)

Dr. Cathy Burns writes in her book, Masonic and Occult Symbols Illustrated, concerning the “NKJV symbol”:

“Marilyn Ferguson, a New Ager, used the symbol of the triquetra (another name for the triskele) on her book The Aquarian Conspiracy. This is a variation for the number 666. Other books and material have a similar design printed on them, such as books from David Spangler, the person who lauds Lucifer, and The Witch’s Grimoire. As most people know, the number 666 is the number of the beast (see Revelation 13:18) and is evil, yet the occultists and New Agers love this number and consider it to be sacred.As stated earlier, many organizations, such as the World Future Society and the Trilateral Commission, incorporate this symbol into their logo. I think it is quite interesting to see that this same symbol appears on the cover of the New King James Bible as well!”(Dr. Cathy Burns, Masonic and Occult Symbols Illustrated, pp. 242-243)

For more info on the NKJV “mark”

Would God “mark” His word with a symbol in the occult?

The Preface to the New King James Version (NKJV) reads, “A special feature of the New King James Version is ITS CONFORMITY to the thought flow of the 1611 Bible. . . the new edition, while much clearer ARE SO CLOSE to the traditional. . .”

Among the first changes that greets the reader of the NKJV is the removal of the much maligned “thee, thou and ye”. The Preface to the NKJV states, “. . .thee, thou, and ye are replaced by the simple you,. . .These pronouns are no longer part of our language.” But “thee, thou and ye” were “NO LONGER part of the language” during 1611 either. (just read the intro to the 1611 King James, there are no “thee”, “thou” and “ye”). In fact, Webster’s Third New International Dictionary, says of ye: “used from the earliest of times to the late 13th century. . .” (p.2648) And yet the 1611 King James was published 400 years later in the 17th century!

So why are they there?
The Greek and Hebrew language contain a different word for the second person singular and the second person plural pronouns. Today we use the one-word “you” for both the singular and plural. But because the translators of the 1611 King James Bible desired an accurate, word-for-word translation of the Hebrew and Greek text – they could NOT use the one-word “you” throughout! If it begins with “t” (thou, thy, thine) it’s SINGULAR, but if it begins with “y” (ye) it’s PLURAL. Ads for the NKJV call it “the Accurate One”, and yet the 1611 King James, by using “thee”, “thou”, “ye”, is far more accurate!

By the way, if the “thee’s” and “thou’s” are “. . .no longer part of our language” – why aren’t the NKJV translators rushing to make our hymnbooks “much clearer”? “How Great Thou Art” to “How Great You Are”, or “Come Thou Fount” to “Come You Fount” Doesn’t sound right, does it? Isn’t it amazing that they wouldn’t dare “correct” our hymns – and yet, without the slightest hesitation, they’ll “correct” the word of God!

The NKJV claims to make the “old” KJV “much clearer” by “updating obsolete words” (New King James Version, 1982e. p. 1235)

How about that “obsolete word”“hell”. The NKJV removes the word “hell” 23 times! And how do they make it “much clearer”? By replacing “hell” with “Hades” and “Sheol”! Webster’s New Collegiate Dictionary defines Hades: “the underground abode of the dead in Greek MYTHOLOGY“. By making it “much clearer” – they turn your Bible into MYTHOLOGY! Not only that, Hades is not always a place of torment or terror! The Assyrian Hades is an abode of blessedness with silver skies called “Happy Fields”. In the satanic New Age Movement, Hades is an intermediate state of purification!

Who in their right mind would think “Hades” or “Sheol” is “up-to-date” and “much clearer” than “hell”?

Matthew 16:18

KJV: “And I say also unto thee, That thou art Peter, and upon this rock I will build my church; and the gates of hell shall not prevail against it.”
NKJV: “And I also say to you that you are Peter, and on this rock I will build My church, and the gates of Hades shall not prevail against it.”

Luke 16:23

KJV: “And in hell he lift up his eyes, being in torments, and seeth Abraham afar off, and Lazarus in his bosom.”
NKJV: “And being in torments in Hades, he lifted up his eyes and saw Abraham afar off, and Lazarus in his bosom.”

Hell is removed in 2 Sam. 22:6, Job 11:8, 26:6, Psalm 16:10, 18:5, 86:13, 116:3, Isaiah 5:14, 14:15, 28:15,18, 57:9, Jonah 2:2, Matt. 11:23, 16:18, Luke 10:15, 16:23, Acts 2:27, 31, Rev. 1:18, 6:8, 20:13,14.

Then the NKJV decides that maybe “Hades” should be “grave”! So the NKJV makes 1 Corinthians 15:55 “much clearer” by changing “grave” to “Hades”! “. . . O Hades, where is your victory?” Clear as mud. . .

Another one of those “obsolete words” is “repent”. They take it out 44 times! And how does the NKJV make it “much clearer”? In Matthew 21:32 they use “relent”. Matthew 27:3 it’s “remorseful” Or Romans 11:29 they change “repentance” to “irrevocable”.

The term “new testament” is NOT in the NKJV! (see Matt. 26:28, Mark 14:24, Luke 22:20, 1 Cor. 11:25, 2 Cor. 3:6, Heb. 9:15,) The NKJV replaces “new testament” with “new covenant” (ditto NIV, NRSV, RSV, NASV). An obvious assault at the written word!

The word “damned”, “damnation” is NOT in the NKJV! They make it “much clearer” by replacing it with “condemn” (ditto NIV, RSV, NRSV, NASV). “Condemned” is NO WHERE NEAR AS SERIOUS as “damned”! Damned is eternal! One can be “condemned” and not “damned”. Romans 14:22 says, “. . . Happy is he that condemneth not himself in that thing which he alloweth.” Webster defines “condemned”: to declare to be wrong, but the much more serious and eternal “damn”: “to condemn to hell”.

The word “devils” (the singular, person called the “devil” is) is NOT in the NKJV! Replaced with the “transliterated” Greek word “demon” (ditto NIV, RSV, NRSV, NASV). The Theosophical Dictionary describes demon as: “. . . it has a meaning identical with that of ‘god’, ‘angel’ or ‘genius'”. Even Vines Expository Dictionary of Biblical Words (p.157) defines “demon” as: “an inferior deity, WHETHER GOOD OR BAD”. Webster defines “demon” as: “divinity, spirit, an attendant power or spirit”, but “devil” as: “the personal supreme spirit of EVIL. . .”

In 2 Timothy 2:15, the NKJV (like the NIV, NASV, RSV, NRSV) remove that “obsolete” word – “study”! The only time you’re told to “study” your Bible. AND THEY ZAP IT! Why don’t they want you to “study” your Bible? Maybe they don’t want you to look too close – you might find out what they’ve ACTUALLY done to your Bible! The “real” KJV is the only English Bible in the world that instructs you to “study” your Bible!

That “obsolete” word “virtue” is replaced with “power” in Mark 5:30, Luke 6:19, 8:46! How does anybody confuse “virtue” with “power”? Simple – by being “bosom-buddies” with the NIV, NASV, RSV, NRSV! That’s what they did!

One of the most absurd changes ever made is changing the word “servant” to “slave”! The NKJV in Romans 6:22, reads: “But now having been set FREE from sin, and having become SLAVES OF GOD. . .” The NKJV, in 1 Corinthians 7:22, calls the Christian, “Christ’s slave”. Talk about a contradiction! John 8:36 says, “If the Son therefore shall make you FREE, YE SHALL BE FREE INDEED.” But isn’t a Christian supposed to serve? Yes, in love. Not as a slave! Galatians 5:13 explains it, perfectly: “For, brethren, ye have been called unto LIBERTY;(not slavery!) only use not LIBERTY for an occasion to the flesh, but BY LOVE SERVE one another.”

In order to “harmonize” with the satanic New Age Movement (and of course the NIV, NASV, RSV, NRSV!), the NKJV changes “end of the WORLDto “end of the AGE“! And in it’s no longer the WORLD to come” butAGE to come”. The New Age Movement teaches a series of ages (hence the name: New AGE). See Matthew 12:32, 13:39, 13:40, 13:49, 24:3, 28:20, Mark 10:30, Luke 13:30, 20:34,35, 1 Cor 1:21.

The New Age Movement and the occult are longing for one called the Maitreya. The Bible calls him the Anti-Christ. New Ager’s refer to him as the “the Coming One” – AND SO DOES THE NKJV! In Luke 7:19, 20 (see also Matt 11:3) John told his disciples to ask Jesus: “Are You THE COMING ONE. . .” In the “The Great Invocation”, a “prayer” highly reverenced among New Agers and chanted to “invoke” the Maitreya, says, “Let Light and Love and Power and Death, Fulfil the purpose of the Coming One.”

And to REALLY show their sympathy with the satanic New Age Movement – BELIEVE IT OR NOT – in Acts 17:29 the New Age NKJV changes “Godhead” to “Divine Nature”! ( ditto NIV, NASV)

And if you think the NKJV just “innocently” updated the “obsolete words”, removed the “thee’s and thou’s” – here’s what the translators proudly admit: IT IS CLEAR that this revision REQUIRED more than the dropping of “-eth” endings, removing, “thee’s” and “thou’s,” and updating obsolete words.” (The New King James Version, 1982e. p. 1235)

AND THEY AIN’T JUST A KIDDIN’!

Here’s a sampling of the required changes:

Genesis 2:18: The NKJV ought to make Hillary Clinton proud: “And the Lord God said, It is not good that man should be alone; I will make a helper COMPARABLE TO HIM”

Genesis 22:8: One of the greatest verses in the Bible proclaiming that Jesus Christ was God in the flesh: “God will provide himself a lamb for a burnt offering:” The NKJV adds that little word “for”: “God will provide for Himself the lamb for a burnt offering” And destroys the wonderful promise! Where’d they get their little “for”? From the NASV!

Genesis 24:47: The “old” KJV reads: “I put the earring upon her face”. But the NKJV has different plans for beautiful Rebekah: “I put the nose ring on her nose”. Where did it get the ridiculous idea to “cannibalize” Rebekah? Just take a peek at the NIV, NASV, RSV, NRSV!

Ezra 8:36: The KJV reads, “And they delivered the king’s commissions unto the king’s lieutenants. . .” The “much clearer” NKJV reads, “And they delivered the king’s orders to the king’s satraps. . .” Who in the world thinks “satraps” is “much clearer” than lieutenants? The NIV, NASV, NRSV, RSV – they do! They put in the same “much clearer” word!

Psalms 109:6: removes “Satan”. (NIV, NASV, RSV, NRSV).

Matthew 7:14: change narrow is the way” to difficult is the way”. There’s nothing “difficult” about the salvation of Jesus Christ! Jesus says in Matt. 11:30, “For my yoke is EASY, and my burden is light.” THE EXACT OPPOSITE! Boy, you talk about a contradiction!

Matthew 12:40: change “whale” to “fish” (ditto NIV) I don’t guess it matters (what’s the truth got to do with it?), the Greek word used in Matthew 12:40 is ketos. The scientific study of whales just happens to be – CETOLOGY – from the Greek ketos for whale and logos for study! The scientific name for whales just happens to be – CETACEANS – from the Greek ketos for whale!

Matthew 18:26 & Matthew 20:20: The NKJV removes “worshipped him” (robbing worship from Jesus) (NIV, NASV, RSV, NRSV)

Mark 13:6 & Luke 21:8: removes “Christ” (NIV, NASV, RSV, NRSV)

John 1:3: change “All things were made BY him;” to “All things were made THROUGH Him” (NIV, NRSV, RSV)

John 4:24: change “God is a spirit” to the impersonal, New Age pantheistic,“God is spirit” (NIV, NASV, NRSV, RSV)

John 14:2: (NKJV 1979 edition) change “mansions” to “dwelling places” (NIV, NASV, RSV, NRSV)

John 14:16: change “comforter” to “helper”(refers to Holy Spirit) (NASV)

Acts 4:27, 30: change “holy child” to “holy servant” (refers to Jesus) (NIV, NASV, NRSV, RSV)

Acts 12:4: change “Easter” to “Passover” (NIV, NASV, RSV, NRSV)

Acts 17:22: changes “superstitious” to “religious” (NIV, NASV, NRSV, RSV)

Acts 24:14: change “heresy” to “sect” (NIV, NASV, NRSV, RSV)

Romans 1:18: change “hold the truth” to “suppress the truth” (NIV, NASV, NRSV, RSV)

Romans 1:25: change “changed the truth” to “exchanged the truth” (NIV, NASV, NRSV, RSV)

Romans 5:8: change “commendeth” to “demonstrates” (NIV, NASV)

Romans 16:18: change “good words and fair speeches” to “smooth words and flattering speech” (NIV, NASV, NRSV)

1 Cor. 1:21: change “foolishness of preaching” to “foolishness of the message preached” (ditto NIV, NASV, NRSV, RSV) There’s nothing foolish about the gospel of Jesus Christ. Unless you’re not saved! 1 Cor. 1:18 says: “For the preaching of the cross is to them that perish FOOLISHNESS. . .” I wonder where that leaves the translators of the NKJV, NIV, NASV, RSV, NRSV?

1 Cor. 1:22: change “require” to “request” (NASV)

1 Cor. 6:9: removes “effeminate” (NIV, NRSV, RSV)

1 Cor. 9:27: change “castaway” to “disqualified” (NIV, NASV, NRSV, RSV)

2 Cor. 2:10: change “person of Christ” to “presence of Christ” (NASV, NRSV, RSV)

2 Cor. 2:17: With all the “corruptions” in the NKJV, you’d expect 2 Cor. 2:17 to change. IT DOES! They change, “For we not as many which CORRUPT the word of God” to “For we are not, as so many, PEDDLING the word of God” (ditto NIV, NASV, NRSV, RSV)

2 Cor. 5:17: change “new creature” to “new creation” (NIV, NRSV, RSV)

2 Cor. 10:5: change “imaginations” to “arguments”. Considering New Age “imaging” and “visualization” is now entering the church, this verse in the “old” KJV just won’t do. (NIV, RSV)

2 Cor. 11:6: change “rude in speech” to “untrained in speech” (NIV, NASV, RSV, NRSV)

Gal. 2:20: omit “nevertheless I live” (NIV, NASV, NRSV, RSV)

Phil. 2:6: (NKJV 1979e.) change “thought it not robbery to be equal with God” to “did not consider equality with God something to be grasped”. (robs Jesus Christ of deity) (NIV, NASV, RSV)

Phil. 3:8: change “dung” to “rubbish” (NIV, NASV, NRSV)

1 Thess. 5:22 change “all appearance of evil” to “every form of evil” (NASV, RSV, NSRV)

1 Timothy 6:5: The NKJV changes “gain is godliness” to “godliness is a MEANS OF gain”. There are NO Greek texts with “means of” in them! Where, oh where, did they come from? Care to take a wild guess? YOU GOT IT! The NIV, NASV, RSV, NRSV!

1 Timothy 6:10: The NKJV changes “For the love of money is the root of all evil:” to “For the love of money is a root of all KINDS OF evil”. The words “KINDS OF” are found in NO Greek text in the world! Where did they get them? Straight from the NIV, NASV, NRSV!

1 Tim. 6:20: change “science” to “knowledge” (NIV, NASV, RSV, NRSV)

Titus 3:10: change “heretic” to “divisive man” (NIV)

Hebrews 4:8 & Acts 7:45: “Jesus” is changed to “Joshua”. (NIV, NASV, RSV)

2 Pet. 2:1: change “damnable heresies” to “destructive heresies” (NIV, NASV, RSV, NRSV)

1 John 3:16: remove “love of God”; (NIV, NASV, RSV, NRSV)

1 John 5:13: The NKJV reads: “These things I have written to you who believe in the name of the Son of God, that you may know that you have eternal life, and that you may CONTINUE TO believe in the name of the Son of God.” They add “CONTINUE TO” without any Greek text whatsoever! Not even the perverted NIV, NASV, NRSV and RSV go that far! A cruel, subtil (see Genesis 3:1) attack on the believer’s eternal security!

Rev. 2:13: change “Satan’s seat” to “Satan’s throne” (NIV, NASV, RSV, NRSV)

Rev. 6:14: “Heaven” is changed to “sky” in (NIV, NASV, RSV, NRSV)

AND THAT DOESN’T SCRATCH THE SURFACE OF ALL THE CHANGES!
The NKJV removes the word “Lord” 66 times!

The NKJV removes the word God 51 times!

The NKJV removes the word “heaven” 50 times!

In just the New Testament alone the NKJV removes 2.289 words from the KJV!

The NKJV makes over 100,000 word changes!

And most will match the NIV, NASV, RSV, or RSV!
And Thomas Nelson Publishers have the audacity to claim in an ad for the NKJV (Moody Monthly, June 1982, back cover), “NOTHING HAS BEEN CHANGED except to make the original meaning clearer.”

The New King James is a COUNTERFEIT!

It’s NOT NEW! The changes are already in the NIV, NASV, NRSV, or RSV!

And it’s certainly NOT true to the 1611 King James Bible!


Friend, I want to ask you the most important question anyone will ever ask you:
HAVE YOU EVER BEEN SAVED?

It’s simple to be saved …

  1. Know you’re a sinner.

    “As it is written, There is none righteous, no, not one:” Romans 3:10

    “… for there is no difference. For all have sinned, and come short of the glory of God;” Romans 3:23

  2. That Jesus Christ died on the cross to pay for your sins.

    “Who his own self bare our sins in his own body on the tree, …” 1 Peter 2:24

    “… Unto him that loved us, and washed us from our sins in his own blood,”Revelation 1:5

  3. And the best way you know how, simply trust Him, and Him alone as your personal Savior.

    “For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life.” John 3:16

WOULD YOU LIKE TO BE SAVED?
Pray this prayer, and mean it with all your heart.

Ayat Bible Yang Dihapus

Most people believe the new versions are just “harmless” updating of words and made easier to understand.

Nothing could be further from the Truth!
Jesus Christ, in Luke 8:11-12, tells the parable of the sower and the seed:

“Now the parable is this: The seed is the word of God. . . then cometh the devil, and TAKETH AWAY the word out of their hearts, lest they should believe and be saved.”. Luke 8:11-12

The new versions “take away” complete verses from the words of God. And as with Eve (see Genesis 3:1), it s all done very subtil.

The average reader would never know it happened!

Verses “Taken Away” in the New Testament
T = Taken Away F = Taken Away in Footnote
VERSE NIV NASV NKJV RSV NRSV NCV LIV
Matt 12:47 F T F
Matt 17:21 T T F T T T F
Matt 18:11 T T F T T T F
Matt 21:44 F T F F
Matt 23:14 T T F T T T
Mark 7:16 T T F T T T T
Mark 9:44 T T F T T T T
Mark 9:46 T T F T T T T
Mark 11:26 T T F T T T T
Mark 15:28 T T F T T T F
Mark 16:9-20 F F F T F F F
Luke 17:36 T T F T T T
Luke 22:43 F F F T F
Luke 22:44 F F F T F
Luke 23:17 T T F T T T T
Luke 24:12 F T F
Luke 24:40 T T F
John 5:4 T T F T T T F
John 7:53 – 8:11 F F T F F F
Acts 8:37 T T F T T T F
Acts 15:34 T T F T T T T
Acts 24:7 T T T T T
Acts 28:29 T T F T T T T
Rom. 16:24 T T F T T T
2 Cor. 13:14 T
James 1:8 T T