Sejarah Singkat Dan Keotentikan AlQuran

Orientalis selalu gencar menyelinap dan mencari celah menyudutkan Islam, tak mengenal waktu dan medan. Walaupun badai menghadang tidak menghambat teriakkan kosong mereka. Segala upaya pun dikerahkan, sebutlah nama Gerd R. Joseph Puin, Bothmer, Rippin, R. Stephen Humphreys, Gunter Lulling, Yehuda D. Nevo, Patricia Crone, Michael Cook, James Bellamy, William Muir, Lambton, Tolstove, Morozov dan Wansbroughla dan ribuan yang berjejer dibelakang mereka. Tak ketinggalan mereka pun telah berhasil meniup angin kelabu dan menanamkan akar tunggang di hati umat islam yang tak memiliki rantai kuat keimanan, Nasr Hamid Abu Zaid, Taha Husain, ‘All Dushti, Ahmad Amin, Fazlur Rahman, dan akhirnya Muhammad Arkoun menjadi pengekor mereka yang sangat aktikf dan kreaktif,

Salah satu serangan yang sangat mereka gentolkan adalah kontroversi dalam kompilasi Al-Quran. Mereka tak ingin kitab suci ini tetap menjadi pegangan hidup kaum muslimin. Mereka mensejajarkan Al-Quran dengan kitab Injil dan Taurat –yang memang telah banyak mengalami perubahan- untuk dikritisi dan dihujat. Mereka menganggap umat Islam adalah bodoh, tertipu oleh distorsi sejarah dimana teks-teks Al-Quran telah tercemar kemurniannya dan sumbernya tidak jelas. Bagi mereka kompilasi Al-Quran hanya berpegang pada khayalan dan rekaan para sahabat belaka, sehingga ilmu hermeunetika wajib diaplikasikan dalam penafsirannya.

Sebagaimana pernyataan Tobi Lester dalam majalah ‘The Athlantic Montly’, “kendati umat Islam percaya Al-Qur’an sebagai kitab suci yang tak pernah ternodai oleh pemalsuan tapi mereka {umat Islam} tak mampu memgemukakannya secara ilmiah”.

Inilah yang melatarbelakangi para ahli hadis dan tafsir Almakkiyat tuk mengkaji dan mengeksplorasi segala permasalahan yang mencuat dalam proses kompilasi Al-Quran. Pemakalah yang tampil sudah tak asing lagi di kalangan masisir, andalan Almakkiyat, yang lagi s2 di Universitas Al-Azhar jurusan Tafsir, siapa lagi kalau bukan uni Arina Amir Lc.

Kajian yang dilaksanakan di rumah uni Wirza ini benar-benar seru dan menegangkan serta menampilkan banyak pengetahuan baru dalam arena diskusi. Pembahasan dimulai dari pengertian kompilasi kemudian dikelompokkan atas 3 periode: masa Rasulullah saw, masa Abu Bakar dan Usman bin Affan.

Mulai bagaimana wahyu diturunkan dan dibacakan didiktekan oleh Rasullullah kepada para sahabat untuk kemudian dihafal dan dituliskan di pelapah korma dan kulit onta, sehingga Al-Quran pun tetap terjaga dalam dada (dalam hafalan) dan naskah (dalam tulisan).

Cukup banyak riwayat bahwa lebih kurang enam puluh lima sahabat penulis wahyu yang telah ditugaskan oleh Nabi Muhammad.

Mereka diantaranya: Abban bin Sa’id, Abu Umama, Abu Ayyub Ansari, Abu Bakr Siddiq, Ubay bin Ka’b, Ja` far bin Abi Talib, Huzaifa, Khalid bin Walid, Zubair bin `Awwam, Zaid bin Tsabit `Abdullah bin Arqam, `Abdullah bin Rawaha, ` ‘Usman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Talib, ‘Umar bin Khattab, ‘Amr bin al-’As, Mu’az bin Jabal, dan lain-lain.

Waktu terus berputar, manusia terbaik sepanjang masa, Rasulullah saw berpulang ke rahmatullah. Puncuk pimpinan Islam selanjutnya dipegang oleh sahabat Abu Bakar Shiddiq sebagai khalifah pertama. Setelah terjadinya perang Yamamah yang menyebabkan banyaknya syuhada dari para huffaz, Umar bin Khatab mengusulkan agar sang khalifah melakukan kompilasi Al-Quran. Abu Bakar pun menunjuk Zaid bin Tsabit dan timnya untuk mengemban tugas berat ini. Penulisan kembali naskah Al-Quran pada masa itu, didasarkan kepada hafalan dan catatan para sahabat. Panitia menetapkan syarat 2 orang saksi, bahwa hafalan dan tulisan dilakukan di depan Rasulullah saw.

Maka terkumpullah Al-Quran dengan ahruf sab’ah dalam bentuk suhuf (naskah-naskah kertas) meskipun belum tersusun dalam kitab seperti sekarang. Tapi dengan proses seleksi dan metode yang super ketat, Al-Quran teruji keotentikannya, tidak seperti yang digembor-digemborkan oleh orientalis.

Tahun berganti, kekhalifahan pun sampai pada khalifah ketiga, Usman bin Affan. Dengan adanya berbagai ekspansi, wilayah kekuasaan Islam semakin luas. Para mujahid berangkat dari suku, kabilah dan provinsi yang beragam, sehingga mereka membaca Al-Quran dengan dialek yang berlainan. Ini karena Rasulullah memang telah mengajar mereka membaca Al-Qur’an dalam dialek masing-masing, karena dirasa sulit untuk meninggalkan dialeknya secara spontan. Hal ini memicu terjadinya kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat pada masa itu.Maka khalifah Usman pada tahun 25 H, memerintahkan kembali Zaid bin Tsabit untuk mengkompilasikan Al-Qur’an berdasarkan mushaf yang telah ada, dengan satu luhgah saja yakni lughah Qurasy. Zaid sekali lagi menggunakan seleksi yang sangat ketat sekali dalam melakukan tugas ini dan tetap memperhatikan kemutawatirannya. Mushaf inilah yang disebarkan ke berbagai penjuru Islam dan disepakati ulama hingga saat ini.

Pada masa-masa selanjutnya terjadi penyempurnaan mushaf Usmani mulai dari titik, baris, rubu, juz, pemisah antara ayat dan surah sehingga kitapun dapat membacanya dengan mudah.

Sebenarnya, pembahasan ini telah sering kita kaji dan telaah namun kita tidak sadar ternyata musuh-musuh Islam berpadu tangan tuk mengacaukan dan mengotak-atik keotentikkan Al-Qur’an. Mereka membuat pertanyaan-pertanyaan yang apabila kita tidak kuat, kita akan mudah terhipnotis, dan tergelincir meragukan Al-Quran yang ada di tangan kita hari ini. Seperti; kenapa Umar bin Khatab khawatir dengan meninggalnya para huffaz, jika memang Al-Qur’an sudah ditulis masa Rasulullah? Mengapa lembaran-lembaran yang ditulis itu tersebar di kalangan sahabat dan tidak disimpan langsung oleh Rasulullah? Kenapa Al-Qur’an tidak langsung dibukukan pada masa Rasulullah tampa harus menunggu periode Usman 15 tahun kemudian? Kenapa terjadi perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an padahal Al-Qur’an adalah mutawatir? Mengapa ketua tim harus Zaid yang notabene masih sangat muda, sedangkan masih banyak sahabat senior lainnya? Mengapa dalam proses kompilasinya tidak mengajak Abdullah bin Mas’ud dan menggunakan shuhuf pribadinya yang disinyalir punya perbedaan? Kenapa 2 ayat terakhir surat at-Taubah tetap dimasukkan padahal hanya Abu Khuzaima al-Ansari saja yang mencatatnya? Dan berbagai pertanyaan lain yang seolah-olah ilmiah dan kritis, tapi ternyata dapat dipatahkan dengan bukti sejarah dan dengan adanya manuskrip-manuskrip Al-Quran sejak abad pertama Hijrah yang masih eksis hingga kini di berbagai museum.

Inilah tantangan kita sebagai penuntut ilmu agama umumnya, untuk menyebarluaskan hujjah-hujjah yang kuat bahwa Al-Quran memang terhindar dari pemalsuan dan perubahan, dan itu dapat dibuktikan secara ilmiah. Salah satu buku yang juga dikupas dalam kajian kali ini adalah The History of The Qur’anic Text from Revelation to Compilation (Sejarah Teks Al-Quran Dari Wahyu Sampai Kompilasinya) karya Prof. Dr. M.M al A’zami -guru besar Universitas King Saud- yang membeberkan fakta-fakta ilmiah keotentikan Al-Quran dalam proses kompilasi.

Dalam semua tataran, Al-Qur’an akan selalu mendapat hujatan dari kalangan yang memusuhi tegaknya agama Allah di muka bumi. Jika belum mampu berbuat banyak menangkis semua serangan, sekurang-kurangnya kita harus terus berusaha mendalami dan memahami prinsip-prinsip agama kita yang tidak mungkin dapat diubah oleh peredaran zaman.

Di atas segalanya, kita harus menjadikan Al-Qur’an sebagai referensi kita. Bagian teks mana pun yang mungkin berlainan dengan mushaf yang ada -terserah apa yang hendak mereka sebutkan- adalah bukan dan tidak akan menjadi bagian dari Al-Qur’an. Demikian halnya, segala upaya dari pihak non muslim yang ingin mencekoki pikiran tentang dasar-dasar ajaran agama kita, mesti kita tolak tanpa harus berpikir panjang. Bagaimana pun keadaan suhu politik, pandangan kaum muslimin terhadap kitab suci ini mesti tetap tak akan tergoyahkan: ia adalah kalam Allah, yang konstan, terpelihara dari kesalahan, tak mungkin dapat diubah, dan mukjizat yang tak mungkin direkayasa.
sumber:
Fadilah Is
http://almakkiyat.wordpress.com/
http://www.facebook.com/profile.php?id=100000381218942

Perbandingan

Jika dibandingkan dengan kitab-kitab yang terdahulu – Taurat, Zabur, Injil- maka Al-Qur’anlah yang paling bisa dikatakan lebih otentik karena beberapa hal :

Ditulis saat Rasulullah masih hidup, dengan larangan penulisan masalah lainnya yaitu hadits, sehingga kemungkinan adanya pencampuran adalah kecil. Sementara yang lain seperti Perjanjian Lama yang merupakan himpunan kitab/fasal, ditulis selama lebih dari dua abad setelah musnahnya teks asli pada zm. Nebukadnezar, yang ditulis kembali berdasarkan ingatan semata oleh seorang pendeta Yahudi yang bernama Ezra dan dilanjutkan oleh pendeta – pendeta Yahudi atas perintah raja Persia , Cyrus pada tahun 538 sebelum Masehi.18

Al-Qur’an masih memakai bahasa asli sejak wahyu diturunkan yaitu Arab, bukan terjemahan. Bagaimanapun terjemah telah mengurangi keotentikan suatu teks.

Bibel sampai ketangan umatnya dengan Bahasa Latin Romawi. Bahasa Ash Taurat adalah Ibrani, sedang bahasa Ash Injil adalah Aramaik. Keduanya disajikan bersama dalam paket Bibel berbahasa Latin yang disimpan dan disajikan untuk masing-masing negara melalui bahasanya sendiri-sendiri, dengan wewenang penuh untuk mengubah dan mengganti sesuai keinginan

Al-Qur’an banyak dihafal oleh umat Islam dari zaman Rasulullah sampai saat ini. Sedangkan Bibel, boleh dibilang tidak ada. Jangankan dihapal, di Indonesia sendiri Bibel umat Katolik baru boleh dibaca oleh umatnya pada tahun 1980

Materi Al-Qur’an tidak bertentangan dengan akal, dan relevan sepanjang masa. Sementara Bibel mengandung banyak hal-hal yang tidak masuk akal dan mengandung pornografi. Seperti berikut ini :

Ayat porno

Yehezkiel 23 :1-21, berisi ayat-ayat jorok tentang seksual. Diceritakan didalamnya penyimpangan seksual yang sangat berbahaya bagi perkembangan psikologis bila dibaca oleh anak anak dibawah umur. Ada kalimat-kalimat yang sangat cabul dengan menyebut (maaf) buah dada, buah zakar, menjamah jamah, birahi, dan lain-lain, contohnya :

(ayat.3) “Mereka bersundal pada masa mudanya; di sann susunya dijamah jamah dan dada keperawanannya dipegang-pegang”.

Ayat yang selanjutnya: 5, 8, 11, 18, 20, 21 dalam kitab yang sama lebih jorok lagi yang tidak sepantasnya ditulis bahkan di dalam buku ini.

Pelecehan Bibel terhadap Tuhan

Tuhan jorok, menyuruh makan tahi? (Yehezkiel4: 13).

Tuhan kalah dalam duel melawan Yakub? (Kejadian 32:28).

Pelecehan Bibel kepada para Nabi Allah Swt.

Nabi Nuh mabuk-mabuk sampai teler dan telanjang bugil (kejadian 9:18-27).

Ayat-ayat yang mustahil dipraktekkan

Hukum Sabat

Hari Sabat (sabtu) adalah hari Tuhan yang harus dikuduskan. Pada hari itu setiap orang dilarang bekerja, dilarang memasang api di rumah (lampu, kompor, dll) karena Sabat adalah hari perhentian penuh. Orang yang bekerja pada hari Sabtu harus dihukum mati (keluaran 20 :8-11, 31 :15, 35 : 2-3).

Ayat-ayat diskriminatif

Perbuatan riba (rente) dilarang dilakukan kepada Israel, tapi boleh dilakukan kepada non Israel (Ulangan 23 : 19-20). Ayat-ayat yang seperti di atas adalah bukti kebenaran dari apa yang diberitahukan oleh Allah bahwa para ahli kitab telah merubah isi kitab mereka. Apa mungkin Tuhan berfirman seperti di atas?. Maha suci Allah atas apa yang mereka tuduhkan. Sebelum menyudutkan sisi sejarah penulisan wahyu, Dr. Robert Morey mestinya berkaca lebih lama di depan kitab sucinya untuk kemudian menentukan langkahnya. Langkah menyudutkan al-Qur’an sangat tidak membantu umat Kristen memahami kitab sucinya. Kalau ingin jujur sebenarnya ajaran asli -tauhid- mereka disampaikan ulang oleh Allah melalui al- Qur’an. Beberapa kiasan dalam bibel akan dapat mudah dipahami ketika membaca al-Qur’an. Maka benar jika al-Qur’an menyatakan bahwa di dalam al-Qur’an memuat kabar dan ajaran tentang mereka. Pengakuan saudara seagama Dr. Robert Morey , lebih menunjukkan suatu kedewasaan berpikir dan jujur. Mungkin termasuk mereka yang disebut al-Qur’an sebagai Qissisin wa ruhban, yaitu :

Dr. G.C. Van Niftrik dan Dr. B.J. Bolland :

“Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan di dalam Bibel; kehilafan-kekhilafan tentang angka-angka perhitungan; tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungkan kekhilafan-kekhilafan itu pada caranya, isi Bibel telah disampaikan kepada kita, sehingga kita akan dapat berkata: “Dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan itu barulah kemudian terjadi di dalam turunan naskah itu. Isi Bibel juga dalam bentuknya yang asli, telah datang kepada kita dengan perantaraan manusia”.19

Dr. R. Soedarmo :

“Dengan pandangan bahwa Kitab Suci hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab dengan bentuk sekarang masih dapat diperbaiki”.20

Sejarah Singkat Penulisan AI-Qur’an

Keaslian al-Qur’an di kalangan Muslim adalah suatu kepastian, susunan dan materinya. Selain karena penjagaan Allah, hal ini tidak lepas dari usaha Rasulullah dan para penerusnya hingga saat ini dalam menjaga keaslian al-Qur’an; huruf perhuruf, ayat perayat, hingga surat dan susunannya. Dengan begitu umat Muslim terhindar dari peringatan Allah swt. untuk tidak merubah al-Qur’an sebagaimana yang pernah dilakukan oleh umat sebelumnya

(Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?] (QS. al-Baqarah: 75).

Allah Swt. telah menjanjikan suatu penjagaan bagi kitab terakhir yang pernah diturunkan kepada umat manusia ini

[Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.] (QS. Al-Hijr : 9).

Dan sekaligus menjadi bukti bahwa Muhammad adalah nabi akhir zaman, sebab ajarannya tetap terpelihara dan tak satupun umatnya berani merubah walaupun satu huruf. Janji Allah tersebut setidaknya terbukti dengan upaya-upaya penjagaan oleh kaum Muslim yang telah berlangsung selama lebih dari 14 Abad. Upaya tersebut dapat disimpulkan dalam dua cara : Penulisan Mushhaf seperti yang sampai kepada kita, dan upaya penghafalan oleh para Qurra’ (pengkaji al-Qur’an) yang tersebar dipenjuru dunia Islam. Dua macam upaya ini sudah berjalan sejak zaman Rasulullah saat wahyu diturunkan.

Sejarah penulisan dan penjagaan wahyu ini akan kami sajikan secara ringkas berdasarkan hadits dan riwayat sahabat. Riwayat merupakan sumber dalam penulisan sejarah -khususnya tentang masalah ini- yang tidak bisa begitu saja diabaikan, apalagi materi riwayat tersebut tidaklah bertentangan dengan akal sehat, dan diriwayatkan dengan seleksi penerimaan yang sangat ketat. Seleksi yang selain berdasarkan materi juga kejujuran periwayat yang mungkin jarang -nyaris mustahil- kita dapatkan pada masa sekarang. Kita bisa bayangkan ketika perowi yang ditemukan ingin menangkap ayam dengan menggunakan biji sebagai umpan, riwayatnya tidak bisa diterima karena dianggap tidak jujur kepada hewan, apalagi kepada manusia. Suatu seleksi yang sangat ketat hingga hasilnya sangat layak untuk kita jadikan sandaran hukum dan penulisan suatu sejarah seperti bahasan kita kali ini.

Kalau toh ada yang mengatakan riwayat-riwayat di bawah ini adalah fiksi, kita bisa menilai mana yang lebih akurat apakah perowi yang telah menulis riwayat tersebut beberapa abad yang lalu (dimana lebih dekat dengan kejadian, dan tradisi lesan masih sangat kuat serta seleksi yang sangat ketat) ataukah mereka yang datang setelah beberapa abad kemudian dengan alasan “Ilmiah” tiba-tiba mengatakan riwayat tersebut “fiksi”. Selama materi riwayatnya tidak menyiratkan hal yang di buat-buat kenapa harus ditolak, kecuali jika bertentangan dengan bukti lain yang lebih akurat.

Penulisan dan Pengajaran AL-Qur’an Pada Masa Rasulullah

Rasulullah sangat berdisiplin dan hati-hati dalam mengajarkan al-Qur’an kepada para sahabatnya, dimana ayat- ayat yang baru turun harus dihapal oleh para sahabat saat itu juga, mereka tidak diizinkan pergi sebelum hafal seluruhnya, setelah itu mereka sampaikan kepada mereka yang tidak hadir, Ayat yang sudah mereka hafal tersebut kemudian mereka lakukan tadarusan (membaca dan mengkajinya) bersama disalah satu rumah di pojok kota Makkah, demi menghindari ancaman orang-orang Quraisy.

Pada saat Rasulullah berada di Madinah, 2/3 al-Qur’an sudah diturunkan.21Hal ini membuat Rasulullah harus bekerja keras mengajarkan al-Qur’an kepada kaum Anshor yang baru masuk Islam. Begitu besarnya tuntutan tersebut hingga Rasulullah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengajarkan al-Qur’an kepada para sahabat. Maka tidak heran jika ada satu kelompok yang kita kenal sebagai ahlu as-suffah yaitu para sahabat yang menetap/tinggal di masjid untuk belajar al-Qur’an, dan dari antara merekalah muncul nama-nama seperti Ibnu Abbas (Muhajirin), Ubay bin Ka’b (Anshor)…… kelak merekalah yang paling berperan dalam melakukan kodifikasi wahyu. Lain dari pada itu cara pengajaran yang dilakukan oleh Rasulullah sangatlah berdisiplin dimana al-Qur’an diajarkan persepuluh ayat sampai para sahabat hafal dan paham maknanya bahkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, untuk kemudian baru pindah pada sepuluh ayat berikutnya.

Pada zaman Nabi upaya penulisan sudah mulai dilakukan walaupun dengan media yang sangat sederhana di antaranya batu tulis, tulang-tulang, pelepah pohon. Riwayat dari Imam Al-Bukhori menerangkan sebagaimana berikut:

Ubaidullah mengatakan kepada kami dari Musa dari Israil dari Abi Ishaq dari al-Barraa’, rnengatakan: Ketika turun (ayat yang artinya:) {Tidaklah sama orang-orang yang berdiam diri dari para mu’min dengan mereka yang berjihad di jalan Allah } Nabi Saw. berkata : panggilkan untukku Zaid dengan membawa batu tulis dan tinta serta tulang, atau tulang dan tinta, kemudian berkata: tulislah {Tidaklah sama orang-orang yang berdiam diri}…..22

Riwayat lain menyebutkan media lain berupa pelepah pohon.23 Dengan media seperti di atas maka logis sekali jika diriwayatkan bahwa lembaran-lembaran al-Qur’an tersebut memenuhi satu ruang (gudang) ditempat Hafsah, istri Nabi Muhammad Saw.

Upaya penulisan yang mereka lakukan bahkan terbilang ketat, sebab penulisan selain wahyu oleh para sahabat tidak diperbolehkan oleh Rasulullah Saw. dengan begitu wahyu Allah tidak tercampur oleh perkataan dan perilaku Nabi yang kemudian disebut Hadits. Berikut ini riwayat dari Imam Muslim berkenaan dengan masalah ini:

Berkata kepada kami Haddaab bin khaalid al-Azdy, berkata kepapa kami Hammaam dari Zaid bin Aslam dari A’athaa’ bin Yasar dari Abi Sa ‘iid al-Khudry, bahwa Rasulullah Saw. bersabda : “Janganlah kalian menulis apa-apa dariku, barang siapa menulis dariku selain al-Qur’an maka hendaklah ia menghapusnya, dan berbicaralah tentang diriku dan itu diperbolehkan, dan barang siapa dengan sengaja berbohong atas diriku maka bersiap-siaplah untuk tinggal di Neraka (HR. Muslim)

Penulis wahyu yang ditunjuk oleh Rasulullah pada masa itu ada empat orang dari kaum Anshor yaitu : Mu’aadz bin Jabal, Ubay bin Ka’b, Zaid bin Tsaabit dan Abu Zaid,25 dalam riwayat lain menyebutkan : Abu ad-Darda’, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid. Selain mereka juga ada beberapa sahabat Yang menulis untuk diri mereka sendiri.26 Penulisan yang dilakukan oleh Aisyah bahkan sudah berbentuk mushhaf (berbentuk seperti buku) sebagaimana tersebut dalam riwayat berikut ini :

Dan berkata kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamiimy ia mengatakan saya belajar dari Malik dari Zaid bin Aslam dari al-Qa ‘qaa’ bin Hakim dari Abi Yunus pembantu ‘Aisyah bahwa ia mengatakarn : Aisyah menyuruhku menulis untuknya mushhaf dan ia mengatakan jika sudah sampai pada ayat ini maka panggil saya [Jagalah oleh kalian sholat sholat (kalian) dan sholat pertengahan] maka ketika sudah sampai pada ayat ini aku memanggilnya dan ia (Aisyah) lantas mengimlakkan kepadaku [Jagalah oleh kalian sholat sholat (kalian) dan sholat pertengahan] serta sholat ashar (dan berdirilah di hadapan Allah dengan khusyu’] Aisyah mengatakan saya mendengarnya dari Rasulullah Saw. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.27

Sangat tidak masuk akal jika Dr. Robert Morey menyatakan bahwa tulisan al-Qur’an telah hilang karena yang tertulis di atas tulang telah pudar dan yang ditulis di atas daun telah dimakan oleh binatang, alasan yang kekanak-kanakan.28

Selain adanya upaya penulisan, maka upaya penjagaan melalui hafalan adalah kegiatan yang umum dilakukan oleh para sahabat, di mana para sahabat saat itu akan merasa malu jika tidak hafal al-Qur’an. Sebegitu merebaknya tradisi hafalan tersebut hingga ada riwayat yang mengatakan bahwa dari sekian jumlah penduduk muslim Madinah saat itu hanya 4-6 orang saja yang tidak hafal.

Tradisi periwayatan lisan (hafalan) dalam budaya Arab sangatlah kental, apalagi pada masa Rasulullah Saw. di mana budaya baca tulis belum meluas -budaya tulis menulis setelah 1,5 abad kemudian-. Begitu kentalnya hingga mereka menemukan metode periwayatan yang ekstra hati-hati. Dalam metode yang mereka pakai dikenal adanya istilah Jarh wa at ta ‘diil (kritik dan seleksi atas kredibelitas perowi), sehingga suatu riwayat yang datang dari seorang yang tidak dipercaya tidak akan digunakan. Masing-masing riwayat yang diakui juga memiliki kriteria sendiri berdasarkan keutuhan matan (materi riwayat), sanad (silsilah riwayat sampai ke sumbernya), serta periwayat, baik jumlah maupun kredibelitasnya.29

Dengan tradisi periwayatan dan hafalan seperti diatas, tentu saja al-Qur’an mendapatkan perlakuan yang paling Istimewa. Apalagi metode pengajaran al-Qur’an yang diterapkan pada masa itu salah satunya adalah metode at-Talaqqy wal `ardl (tatap rnuka langsung antara guru dan murid dengan komunikasi dua arah, dengan system learning and presentation) yang akhirnya menjadi dasar-dasar dalam kodifikasi al-Qur’an, yaitu: “Mengambil materi riwayat yang paling akurat serta cara periwayatan yang paling benar, bukan sekedar yang umum clan sesuai dengan standar bahasa Arab “.30

Riwayat-riwayat berikut ini mungkin akan memperjelas tentang masalah ini :

Dari ‘Fathimah ra, “Nabi Saw membisikkan kepadaku: ‘Jibril telah mengajariku al-Qur’an setiap tahunnya, dan dia mengajariku tahun ini dua kali, dan aku tidak melihat itu kecuali ajalku telah dekat” (HR. Bukhari) .31

Riwayat di atas menerangkan bahwa al-Qur’an selalu diajarkan oleh Jibril kepada Nabi, sebagai pembawa wahyu, yaitu pada bulan Ramadlan pada setiap tahunnya hingga masa berakhirnya penurunan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. Pada tahun yang terakhir, menjelang wafatnya, Jibril datang dua kali untuk mengajariNya al-Qur’an.

(Riwayat ini sekaligus menepis anggapan Dr. Robert Morey yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. tidak mengetahui kapan beliau akan wafat.)

Pandangan pewahyuan melalui Jibril utusan Allah untuk disampaikan kepada Rasulullah -salah satu caranya dengan dibacakan- secara gradual selama 23 tahun lebih dapat diterima akal ketimbang penggambaran satu buku diturunkan dari langit. Pengajaran dengan system at-talaqqy wal `ardli yang dilakukan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad Saw tersebut diteruskan kepada para sahabat seperti yang dituturkan oleh riwayat berikut ini :

Dan berkata kepada kami Amru an-Naqid, berkata kepada kami Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad, berkata kepada kami Ayahku dari Muhammad bin Ishaq ia mengatakan, berkata kepadaku Abdullah bin Abi Bakar bin Muharnmad bin Amru bin Hazm al-anshaary dari Yahya bin ‘Abdullah bin Abdirrahman bin Sa’ad bin Zurarah dari Ummi Hisyam binti Haritsah bin an-Nu’man mengatakan: Tungku api kami dan tungku api Rasulullah adalah satu selama satu atau dua tahun atau lebih, dan saya tidak pernah mengambil (menghafalkan) (surat) Qaaf dari al-Qur’an yang mulia kecuali dari lisan Rasulullah Saw. yang selalu beliau baca pada hari jum’at di atas mimbar ketika berkhutbah dihadapan jama’ah. (HR. Muslim) .32

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah seringl:ali meminta sahabatnya untuk membacakan al-Qur’an dihadapannya 33. Diantara para sahabat yang ditunjuk oleh Rasulullah untuk mengajarkan al-Qur’an adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim, Mu’adz, serta Ubay bin Ka `b .34

Memang agak naif jika seseorang mempersoalkan masalah hafalan yang seakan-akan hanya dilakukan oleh satu orang saja, seperti pernyataan Dr. Robert Morey berikut :

Pengumpulan bahan-bahan al-Qur’an berlangsung beberapa tahun. Banyak masalah muncul karena daya ingat dan hafalan-hafalan seseorang fidak persis sama dengan orang lain. Hal ini merupakan salah safu kelemahan manusia yang tidak dapaf diabaikan. 35

Dr. Robert Morey sangat meremehkan kalangannya senditi dengan menganggap mereka tidak bisa membedakan antara manusia sebagai individu clan manusia sebagai umat. Sebagai individu mungkin saja manusia berkurang daya ingatnya, tapi sebagai ummat hafalan bahkan semakin kuat seiring usaha yang mereka lakukan dari generasi ke generasi. Umat adalah komunitas dan bukan satu orang. Usia umat tidak seperti usia satu orang, usia ummat bisa berabad bahkan beribu tahun hingga kemusnahannya. Usia umat Islam sendiri sudah mencapai ±14 abad.

NOTES

18. Didalam Perjanjian Lama terdapat Taurat (bahasa Semit) yang Dalam bahasa Latin disebut : Pentateuque yang artinya kitab yang terdiri daripada lima bagian : “Kejadian, Keluaran, Imamat orang Levi, bilangan dan ulangan. Orang-orang Yahttdi dan Kristen beranggapan bahwa pengarang Kitab Taurat adalah Nabi Musa. Untuk itu perlu diuji , antara lain tentang kematian Nabi Musa dan kemudian ia menulis tentang kematiannya sendiri ? ( Ul. 34 : 5 ).
19. Dogmatika Masa Kini, BPK Jakarta, 1976, hal. 298
20. Ikhtisar Dogmatika, BPK Jakarta, 1965 hal. 47
21. hal ini bisa dihitung dari jumlah surat makky dan madany.
22. Al-Bukhari, Shahih Al-Bulchari, Daar al-Fikr, Beirut, 1994, Vol. Vl, hal. 123.
23. Imam Ahmad Ibn Hambal, Musnad, Daar al-Fikr, Beirut, vol. V, hal. 185.
24. Imam Muslim, Shahih Muslim, Daar al-Fikr, Beirut, 1993, Jilid II, hal. 710.
25. Ibid, II/474
26. Diantaranya adalah Siti ‘Aisyah, Ibnu Mas’ud, Umi Waroqoh binti Abdillah bin Harits, Ubay bin Ka’b, Imam Ali, Ibn Mas’ud dll.
27. Muslim, I/280.
28. Robert Morey, Op. citl., hal 128
29. Metode periwayatan tersebut dikenal dengan ilmu Mushtolah al-Hadits, dan sudah maklum dalam tradisi dan khazanah keilmuan Islam.
30. As-Suyuthi, al-Itqaan fi Ulum al-Qur’an, Daar al-Fikr, Beirut, Cet. III, Th. 1951, Vol. I, hal. 77. 78
31. Al-Bukhari, VI/123.
32. Muslim, I/382.
33. Al-Bukhari, VI/138.
34. Ibid, VI/124.
35 Robert Morey, op. cit., ha1128.
 
0leh : Irene Handono

Kisah Pertemuan Musa Dengan Tuhan Dalam Alkitab Dan Quran

Kisah pertemuan Musa dengan Tuhan menurut Al-Qur’an dan alkitab

 

Al-Qur’an bercerita tentang pertemuan nabi Musa dengan Tuhan, ketika beliau keluar dari negeri Madyan untuk kembali ke Mesir. Di perjalanan, Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa. Al-Qur’an memuat kisah ini dalam 2 rangkaian ayat yaitu pada [QS 28:29-30] dan [QS 20 :9-14]

 

[28:29] Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan”.[28:30] Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam (innii anaa allaahu rabbu al’aalamiina)

 

[20:9] Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? [20:10] Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu”. [20:11] Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. [20:12] Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa. [20:13] Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). [20:14] Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (innanii anaa allaahu laa ilaaha illaa anaa fau’budnii wa-aqimi alshshalaata lidzikrii).

 

Secara jelas Al-Qur’an menginformasikan bahwa Tuhan memperkenalkan diri-Nya dengan nama ‘Allah’ yang tiada ‘ilah’ selain diri-Nya. Informasi ini menunjukkan bahwa nama tersebut merupakan proper name dari Tuhan, bukan suatu istilah atau nama jabatan.

 

Kita menemukan catatan alkitab terhadap peristiwa yang sama pada kitab Keluaran 3:2-14, dengan gaya bahasa yang ‘sangat manusiawi’ dan sedikit agak ‘complicated’ :

 

Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” . Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? –apakah yang harus kujawab kepada mereka?” Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”

 

Dalam rangkaian cerita ini terlihat pemakaian istilah untuk Tuhan dengan bermacam-macam sebutan : Malaikat TUHAN, Allah dan TUHAN. Dalam terminologi Kristen, kata Allah adalah nama jabatan, sedangkan kata TUHAN merupakan terjemahan dari nama diri YHWH (sebagian Kristen melafadzkannya dengan Yahweh, sebagian lain Yehova atau Jehova). Tidak jelas apakah ketika Tuhan akan bertemu dengan Musa, malaikatnya ‘mempersiapkan jalan’ terlebih dahulu, lalu baru Tuhan muncul dan menyapa Musa, dan agak aneh juga ketika Musa menjawab ‘ya Allah’, maksudnya tentunya ‘ya Tuhan’ untuk menunjukkan bahwa Musa sudah mengerti yang menyapanya adalah Tuhan, dan dialog ‘nggak nyambung’ kembali terjadi ketika Tuhan melanjutkan dengan ‘Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub’, tentunya ini diartikan ‘Akulah Tuhan dari nenek-moyangmu sebelumnya’. Lagi-lagi dialog ini terlihat tidak nyambung karena dari jawabannya, Musa sudah mengetahui bahwa yang menyapanya adalah Tuhan, artinya Musa tentu memahami kalau Tuhan tersebut juga merupakan Tuhan dari nenek-moyangnya, kecuali kalau Musa memang belum mengerti.

 

Setelah Tuhan menjelaskan siapa diri-Nya dan melanjutkan adanya perintah agar Musa untuk menyelamatkan kaumnya dari siksaan Fir’aun di Mesir, Musa terkesan ragu dan keraguannya tersebut bukan terkait dengan Fir’aun yang akan dihadapi, tapi justru ditujukan kepada kaumnya sendiri, Musa mengatakan ‘apabila aku mendapatkan orang Israel’ menunjukkan prediksi dia bahwa amanat yang akan dia lakukan akan mendapat tantangan dari kaum Israel sendiri, dan tantangan tersebut terkait dengan ‘siapa yang menyuruh Musa’. Kembali dialog terlihat aneh karena Tuhan sudah menyatakan bahwa Dia adalah Tuhannya nenek-moyang Musa sekaligus merupakan Tuhan dari kaum Israel yang akan diselamatkan, lalu mengapa Musa masih meragukan sikap dari kaumnya sendiri..??. Sebagian tafsir Kristen mengungkapkan perkataan Musa selanjutnya soal pertanyaan tentang nama Tuhan :

 

“mah shemo?” [siapakah nama-Nya]. Dalam tata bahasa Ibrani, untuk menanyakan sesuatu atau seseorang, biasanya digunakan bentuk tanya “mi?” Namun penggunaan kata “ma” , bukan hanya bermaksud menanyakan nama secara literal namun hakikat atau pribadi dibalik nama itu.

 

http://www.messianic-indonesia.com/artikel_detil.php?id=070720183732

 

Lalu Tuhan menjawab ‘Aku adalah Aku’ dan ‘Akulah Aku yang mengutus kamu’. Lebih lanjut penafsiran dari link tersebut :

 

“Ehyeh Asyer Ehyeh” yang artinya “AKU ADA YANG AKU ADA”. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan, “AKU ADALAH AKU”. Terjemahan ini tidak tepat. Jika “AKU ADALAH AKU”, seharusnya teks Ibrani tertulis “Anokhi hayah Anokhi”. Kata “EHYEH”, merupakan bentuk kata kerja imperfek [menyatakan sesuatu yang sedang berlangsung atau belum selesai] dari akar kata “HAYAH”. G. Johanes Boterweck dan Helmer Ringren dalam Theological Dictionary of The Old Testament menjelaskan, bahwa kata “Hayah” digunakan dalam Perjanjian Lama dan diterjemahkan dengan opsi sbb: {1} “Exist, be Present” [Ada, Hadir] {2}”Come into Being” [menjadi] {3} Auxilaries Verb [kata kerja bantu][f2]. DR. Harun Hadiwyono dalam bukunya Iman Kristen, menyatakan bahwa kata “Ehyeh” bermakna “Aku Berada” . Namun saya lebih cenderung menerjemahkannya menjadi “AKU [AKAN] ADA”.

 

Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyatakan nama diri-Nya, hal ini berbeda dengan informasi Al-Qur’an yang menyatakannya dengan jelas bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Allah. Penyebutan nama Tuhan berdasarkan Al-Qur’an tersebut juga bukan berasal dari pertanyaan Musa yang ragu akan sikap kaumnya, tapi merupakan ‘inisiatif’ Tuhan sendiri. Al-Qur’an mencatat kekhawatiran Musa tertuju kepada Fir’aun, bukan kepada sikap kaumnya :

 

[20:45] Berkatalah mereka berdua: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas”.

[20:46] Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”.

 

Alkitab melanjutkan cerita bahwa pengenalan nama Tuhan dilakukan setelah Musa dan Harun menghadap Fir’aun dan meminta agar dia membebaskan kaum Israel dari penindasan, lalu Fir’aun bereaksi mempersulit pekerjaan kaum Israel (Keluaran 5:6-19) sehingga membuat Bani Israel berbalik menyalahkan Musa (Keluaran 5:20-21) lalu akibatnya Musa ‘memprotes’ Tuhan (Keluaran 5 :22-23). Setelah itu Tuhan menjanjikan bahwa Dia akan menaklukkan Fir’aun (Keluaran 6:1) lalu dilanjutkan dengan ‘proklamasi’ nama Tuhan secara berulang-ulang :

 

Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Akulah TUHAN. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku. Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN.”

 

Kata TUHAN merupakan terjemahan dari YHWH, suatu nama yang dianggap merupakan nama diri Tuhan dalam kekristenan. Kisah ini menjelaskan bahwa jawaban Tuhan sebelumnya atas keraguan Musa terhadap umatnya tidak bekerja dengan efektif, pernyataan ‘Aku adalah Aku’ tidak bisa meyakinkan orang-orang Israel begitu mereka mendapat tekanan dari Fir’aun sehingga Tuhan kembali menjelaskan siap diri-Nya dengan menyatakan nama dirinya YHWH, lalu dilanjutkan dengan janji-janji bahwa kaum Israel yang mau mengikuti Musa akan dibebaskan dari perbudakan dan diberikan negeri yang dijanjikan kepada nenek-moyang mereka. Ada satu pernyataan yang menarik disini, ketika Tuhan menegaskan bahwa nama YHWH tersebut belum dinyatakan kepada Abraham, Ishak dan Yakub sekalipun Tuhan telah membuat perjanjian dengan mereka. Lalu dengan memakai nama apa Tuhan membuat perjanjian..?? Katakanlah ada 2 pihak membuat perjanjian, seharusnya masing-masing pihak mencantumkan nama jelas yang menunjukkan identitasnya, lalu keduanya membubuhkan tanda-tangan diatas materai sebagai suatu ikatan yang mengikat bagi masing-masing. Sangat aneh kalau ada salah satu pihak tidak mencantumkan nama jelasnya, itu bukanlah suatu perjanjian. Dan lebih hebatnya lagi, kaum Israel tetap tidak mempercayai nama yang disampaikan Musa (Keluaran 6:9)

 

Alkitab memuat informasi simpang-siur tentang kapan nama YHWH pertama kali diperkenalkan, saya sudah menulisnya disini :

 

http://forum-swaramuslim.net/more.php?id=4311_0_15_0_M

 

Persoalan ini memunculkan banyak teori dari kalangan Kristen sendiri, dan tidak ada satu pihakpun yang bisa memastikan mana dari pendapat mereka yang benar.

 

Teori pertama, dikemukakan oleh John Mc.Faydyen. Menurutnya, para Patriakh atau leluhur Israel, belum mengenal nama Yahweh. Mereka hanya mengenal nama El Shaday. Nama Yahweh baru diungkapkan melalui Musa. Nama Yahweh diambil dari suku Keni dan Midian yang sudah tinggal lama di Horeb. Kemudian nama Yahweh diadopsi menjadi nama bagi Tuhan Israel.

 

Teori kedua, dikemukakan oleh Thomas Scott dan Robert Jamieson. Menurutnya, ungkapan dalam Keluaran 6:3, bukan suatu pernyataan melainkan suatu bentuk pertanyaan, sehingga menghasilkan bentuk kalimat, “Namun dengan Nama-Ku Yahweh, belumkah/tidakkah Aku memperkenalkan diri pada mereka?”.

Teori ketiga dari Henry Cowles. Dia menjelaskan bahwa Keluaran 6:3 merupakan kehadiran pewahyuan secara khusus mengenai nama Yahweh, namun bukan berarti untuk pertama kalinya nama Yahweh itu didengar oleh para leluhur Israel.

 

 

http://www.messianic-indonesia.com/artikel_detil.php?id=070720183700

 

Si penulis lalu menyatakan keberpihakannya kepada teori ketiga dengan menyatakan :

 

Beberapa kesimpulan penting yang dapat kita peroleh dari kajian singkat ini adalah : Pertama, nama Yahweh sudah dikenal sejak zaman Adam [Kej 2:7], Enos [Kej 4:26] dan leluhur Israel Namun pada zaman Abraham, Yitshaq dan Yakob, sebutan El Shadai lebih populer dan familiar untuk menyebut nama Yahweh. Kedua, nama Yahweh disingkapkan secara definit dan ekslusif pada Musa demi tugas perutusannya. Nama Yahweh dihubungkan sebagai nama yang membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, nama yang dihubungkan sebagai pemberi Torah bagi Israel. Ketiga, makna kata “tidak” atau “belum” dalam Keluaran 6:2, bukan bermakna bahwa nama Yahweh sama sekali tidak dikenal. Merujuk pada pengalaman Hagar, yang menamakan Yahweh yang memberi air di padang gurun, sebagai El Roi, maka nama Yahweh sesungguhnya telah dikenal namun lebih familiar dengan sebutan-sebutan pengganti, untuk mensifatkan karakter dan karya-Nya.

 

Dalam diskusi dengan penulis yang bersangkutan, saya menerima jawaban mengapa sampai nama YHWH tersebut tidak familiar dan populer pada jalan manusia sebelum Musa, jawabannya adalah :”Karena manusia semakin jauh terpisah dari Tuhan (Kej 3:24) maka bukan hanya mengakibatkan disorientasi hubungan personal dengannya melainkan pengetahuan mengenai nama pribadinya”. Ini jelas merupakan alasan yang kembali menimbulkan tanda-tanya :

 

1. Karena Kejadian 3:24 menceritakan Adam dan Hawa, kalau alasan tersebut yang dipakai maka seharusnya pihak yang ‘lupa’ dengan nama Tuhannya adalah Adam dan Hawa, namun pada Kejadian 4:1 justru Hawa-lah yang dinyatakan menyebut nama tersebut. 2. Kalau terkait dengan soal popularitas maka tentunya harus dijelaskan berapa banyak manusia sebelum jaman Musa yang bertindak jauh dari Tuhan dan berapa banyak yang merupakan hamba-Nya yang taat. Hal ini tidak bisa digeneralisir karena toh nama YHWH dikatakan sudah dikenal.

 

Jelas alasan yang dikemukakan sangat lemah, dan teori-teori yang muncul disekitar simpang-siur informasi kapan nama YHWH tersebut pertama kali diperkenalkan tetap menjadi tanda-tanya…

 

Asal-mula nama YHWH dan temuan Arkeologi

 

Dari persepektif Islam, akan muncul pertanyaan :” Kalau Al-Qur’an menyatakan nama tersebut adalah ‘Allah’ sedangkan alkitab menjelaskan nama YHWH, lalu darimana asalnya nama YHWH tersebut..??”. Indikasi tentang asal-mula nama ini bisa kita dapatkan pada temuan arkeologi berupa prasasti yang dibuat dijaman Fir’aun Amenhotep III :

 

Prasasti Amenhotep III (http://www.biblearchaeology.org/post/2010/03/08/The-Name-Yahweh-in-Egyptian-Hieroglyphic-Texts.aspx)

 

Diperkirakan prasasti tersebut dibuat tahun 1400 BC pada pemerintahan Fir’aun Amenhotep III. Fir’aun ini termasuk salah seorang raja Mesir dari generasi ke-18, yaitu suatu generasi raja-raja Mesir yang berhasil melakukan perluasan wilayah kekuasaan menyebar sampai ke wilayah Syria dan Palestina sehingga terbuka kemungkinan untuk berinteraksi dengan suku-suku nomaden yang mendiami wilayah tersebut. Orang Mesir menjuluki suku-suku nomaden tersebut dengan ‘Shahu’. Al-Qur’an dan alkitab mengindikasikan bahwa Shahu ini merupakan kelompok-kelompok penyembah berhala [QS 7:138] dan Keluaran 23:23-24. Prasasti tersebut mengidentifikasi salah satu Shahu yang berada diwilayah Palestina dengan sebutan ‘the land of the Shasu of Yahweh’. Terdapat beberapa analisa dari para arkeolog soal nama ini :

 

Now let us draw some conclusions regarding the Land of the Shasu of Yahweh. Since no geographical term that is anything like Yahweh has been identified, this suggests that the hieroglyphic phrase t3 sh3sw ya-h-wa should be translated as “the land of the nomads who worship the God Yahweh” rather than as “the land of the nomads who live in the area of Yahweh.” In addition, the fact that no geographical term anything like Yahweh has been identified also strengthens the likelihood that the words ya-h-wa in the Soleb and Amarah texts are indeed early mentions of the God of Israel. (Sekarang mari kita menarik beberapa kesimpulan tentang Tanah Shasu Yahweh. Karena tidak ada istilah geografis yang sesuatu seperti Yahweh telah diidentifikasi, hal ini menunjukkan bahwa frase sh3sw hiroglif ya t3-h-wa harus diterjemahkan sebagai “tanah suku nomaden yang menyembah TUHAN,” daripada sebagai “tanah suku nomaden yang tinggal di daerah Yahweh. “Selain itu, fakta bahwa tidak adanya istilah geografis yang mengidentifikasikan Yahweh juga memperkuat kemungkinan bahwa kata-kata ya-h-wa dalam teks Soleb dan Amarah memang awal menyebutkan dari Allah Israel).

 

Para ahli tersebut berusaha untuk memunculkan istilah ‘Yahweh’ tersebut bukan merujuk kepada nama suatu tempat, tapi merupakan nama sesembahan dari suku nomaden tersebut.

 

Amnehotep III berkuasa tahun 1390 – 1352 BC, jauh sebelum masa pemerintahan Ramses II dan Meneptah, berkuasa tahun 1279 – 1203 BC, yang merupakan Fir’aun yang diindikasikan sebagai masa hidupnya nabi Musa dan peristiwa eksodus sesuai informasi alkitab.

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_raja_Mesir_kuno

 

Penyebutan nama tersebut memunculkan beberapa pertanyaan terkait dengan beberapa hipotesa tentang nama Yahweh dalam Perjanjian Lama :

 

1. Berdasarkan alkitab, nama Yahweh belum diperkenalkan sebelum peristiwa eksodus, lalu darimana suku nomaden penyembah berhala yang hidup di Palestina mengenal nama tersebut..??

 

2. Kalau dipakai hipotesa yang lain yang menyatakan bahwa nama tersebut sudah diperkenalkan namun tidak populer (karena manusia yang hidup telah terpisah dari Tuhan) , lalu mengapa justru nama Yahweh lebih populer dikenal dari suatu suku nomaden penyembah berhala dan bukan didapatkan dari orang-orang Israel yang hidup ditengah-tengah bangsa Mesir sebagai budak..??

 

Fakta-fakta tersebut memunculkan suatu kemungkinan bahwa nama Yahweh sebenarnya berasal dari nama berhala yang disembah oleh suatu Shasu diwilayah Palestina, lalu orang-orang Israel yang diselamatkan Musa menyeberang ke wilayah tersebut mengadopsi nama itu menjadi nama Tuhan. Apakah ini mungkin terjadi..??

 

Kedegilan Bangsa Israel

 

Kita harus terlebih dahulu mengungkapkan bagaimana sebenarnya perilaku kaum Israel pengikut nabi Musa ini. Alkitab menceritakan bahwa karakter mereka yang suka membangkang dan tidak tahu berterima-kasih, termasuk kecenderungan untuk menciptakan Tuhan selain Apa yang disembah oleh nabi Musa. Baru saja mereka diselamatkan dari bangsa Mesir dan menyeberang lautan, mereka mulai bertingkah banyak menuntut kepada Musa, bahkan ketika Musa tidak bersama mereka 40 hari karena sedang berada diatas bukti Sinai, mereka membuat patung sapi dari emas lalu menyembahnya, sehingga Musa sampai marah dan membanting loh-loh batu berisi hukum-hukum Taurat yang didapatnya dari Tuhan. Kerepotan Musa terhadap kelakuan kaumnya ini tercatat pada Kejadian 15 s/d 20 dan Kejadian 32. Sampai akhirnya Tuhan dan Musa sendiri menyatakan ‘prediksi’ tentang masa depan bangsa ini :

 

Ini kata Tuhan pada Ulangan 31:16-18

 

TUHAN berfirman kepada Musa: “Ketahuilah, engkau akan mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu dan bangsa ini akan bangkit dan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri, ke mana mereka akan masuk; mereka akan meninggalkan Aku dan mengingkari perjanjian-Ku yang Kuikat dengan mereka. Pada waktu itu murka-Ku akan bernyala-nyala terhadap mereka, Aku akan meninggalkan mereka dan menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, sehingga mereka termakan habis dan banyak kali ditimpa malapetaka serta kesusahan. Maka pada waktu itu mereka akan berkata: Bukankah malapetaka itu menimpa kita, oleh sebab Allah kita tidak ada di tengah-tengah kita? Tetapi Aku akan menyembunyikan wajah-Ku sama sekali pada waktu itu, karena segala kejahatan yang telah dilakukan mereka: yakni mereka telah berpaling kepada allah lain.

 

Ini kata Musa seperti yang tercatat pada Ulangan 31:24-29 :

 

Ketika Musa selesai menuliskan perkataan hukum Taurat itu dalam sebuah kitab sampai perkataan yang penghabisan, maka Musa memerintahkan kepada orang-orang Lewi pengangkut tabut perjanjian TUHAN, demikian: “Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati. Suruhlah berkumpul kepadaku segala tua-tua sukumu dan para pengatur pasukanmu, maka aku akan mengatakan hal yang berikut kepada mereka dan memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap mereka. Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu.”

 

Bahkan sampai dijaman Yesus Kristus, alkitab mencatat kelakuan bangsa Israel ini melalui kecaman Yesus terhadap mereka, seperti yang ada dalam Matius 23:13-36 :

 

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karen…a kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh, dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? Sebab itu, lihatlah, Aku (coba diganti dengan : Allah) mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!”

 

Informasi ini menunjukkan bahwa keingkaran bangsa Israel terhadap nabi-nabi mereka terjadi terus-menerus mulai dari jaman Musa sampai ke jaman Yesus Kristus.

 

Indikasi alkitab tentang kelakuan bangsa Israel ini dikonfirmasi oleh Al-Qur’an :

 

[7:138] Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”. [7:139] Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.

 

Informasi dari alkitab dan Al-Qur’an ini membuka peluang bahwa masuknya Tuhan selain apa yang diajarkan kepada bangsa ini merupakan suatu keniscayaan, bahwa suatu waktu ketika Musa telah meninggal, maka bangsa Israel akan menyembah Tuhan yang lain. Lalu bagaimana cara menjelaskan mengapa nama Yahweh ini bisa masuk kedalam Perjanjian lama..??

 

Terdapat penelitian para ahli alkitab yang menyatakan bahwa 5 kitab pertama dari Perjanjian Lama yang disebut sebagai Taurat/Pentateuch yang semula diklaim ditulis oleh Musa, merupakan hasil tulisan banyak orang yang dilakukan setelah Musa, sekalipun sebagian isinya memang merupakan ajarannya. Kitab yang berisi informasi tentang pertemuan Musa dengan Tuhan yang memunculkan nama Yahweh bukan tidak mungkin berasal dari orang-orang Israel setelah kematian Musa yang diprediksi sendiri oleh Musa akan melakukan penyimpangan terhadap apa yang sudah diajarkannya.

 

Secara umum Documentary Hypothesis adalah teori yang mengatakan bahwa 5 kitab pertama dalam Alkitab (Pentateukh) tidak ditulis oleh seorang penulis, melainkan dikumpulkan dan diedit dari karya-karya lainnya oleh beberapa orang penulis.

 

http://www.gkri-exodus.org/image-upload/BIB-PPL1_04_Hipotesa.pdf

 

Sebagaimana halnya sebuah catatan sejarah, isi dan arah informasi yang terdapat didalamnya selalu terkait dengan kepentingan siapa yang menulisnya. Ketika bangsa Israel memasukkan nama Yahweh kedalam Taurat mereka, maka mereka memperkirakan akan munculnya pertanyaan dari orang-orang :”Mengapa nama tersebut tidak pernah disebut oleh nenek-moyang kita sebelumnya..??”, terlihat kesan bahwa ayat yang berbunyi ‘tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri’ sengaja dicantumkan untuk mengantisipasi pertanyaan ini. Namun penulis yang lain kemungkinan ingin memuat bahwa nama ini sudah dikenal dan disebut oleh nenek-moyang mereka karena nama Tuhan yang tidak dikenal sebelumnya dan tiba-tiba muncul pada jaman Musa terlihat tidak begitu meyakinkan, lalu sipenulis tersebut memunculkan penyebutan nama tersebut pada Kejadian 2:7 dan 4:26. Kelakuan bangsa Israel ini terhadap kitab mereka makin memperjelas bahwa apa yang mereka buat merupakan suatu kitab sejarah yang tambal-sulam.

 

Berdasarkan urut-urutan penjelasan diatas mulai penjelasan alkitab dan Al-Qur’an tentang peristiwa pertemuan Musa dengan Tuhan, pengungkapan beberapa hipotesa terhadap kapan pertamakali munculnya nama Yahweh, temuan dan analisa prasasti Amenhotep III, informasi kedegilan bangsa Israel, pendapat ilmiah tentang sipenulis Taurat/Pentateuch, maka kita bisa menarik suatu benang merah akan kemungkinan nama Yahweh tersebut merupakan nama yang dimunculkan belakangan oleh bangsa Israel, diadopsi dari suatu nama berhala yang disembah oleh sebuah kaum nomaden di wilayah Palestina..

 

source http://forum-swaramuslim.net/more.php?id=43784_0_15_0_M

 

Tambahan:

From Mas Derry:http://www.sarapanpagi.org/pemakaian-nama-yhvh-sebagai-nama-berhala-vt569.html

From Sha La: http://www.sarapanpagi.org/nama-tuhan-aku-adalah-aku-eheyeh-asyer-eheyeh-vt513.html

 

From Ayuzaar:

Yahudi bertuhan yang satu itu? Sebagian menyebut-Nya sebagai ‘Yahweh’. Tetapi, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan. Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: “Yahweh: The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH’, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy.”